Antusias Peserta Mendominasi Pelatihan Implementasi Computational Thinking

Kendal – Penandatangan MoU kerja sama antara Biro Bebras UIN Walisongo dengan MIN 1 Kendal, menghantarkan 35 guru mendapatkan Pelatihan  Implementasi Computational Thinking  dalam pembelajaran.  Hadir sebagai narasumber, Mohammad Tafrikan, Zulaikhah, dan Ervin Tri Suryandari. Ketiganya merupakan dosen UIN Walisongo Semarang, Jumat (19/3).

Pada babak pertama, Ervin Tri Suryandari memberikan pre test kepada peserta. Ada 5 soal berbasis Computational Thinking yang harus dikerjakan selama 10 menit. Mendengar perintah ini, sontak membuat  peserta kaget. Namun karena proses ini harus dilalui, akhirnya 35 peserta dapat menyelesaiakan pre test dengan hasil yang bervariatif.   

Babak berikutnya, Mohammad Tafrikan hadir dengan semangat jiwa mudanya, mengajak kepada peserta untuk membahas soal berbasis  Computational Thinking. Dengan gayanya yang khas, Tafrikhan mengurai, membahas soal-soal tersebut diikuti dengan antusiasme yang tinggi dari peserta. Tidak hanya sekali dua kali peserta bertanya, namun setiap kali ada pembahasan yang  menyulitkan, peserta langsung memberikan umpan balik.

Suasana menjadi semakin memuncak pada saat peserta diajak diskusi kelompok untuk memecahkan soal-soal yang berbasis  Computational Thinking. Dengan bekal metode yang dimilikinya, masalah diselesaikan melalui tahapan-tahapan berpikir dalam merancang pengembangan sistem atau aplikasi komputer, akhirnya diskusi kelompok berhasil dan langsung dipresentasikan.

Sebagaimana akhir pelatihan, peserta diminta mengerjakan pos test, untuk mengetahui apakah kemampuan peserta meningkat antara sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil akhirnya, sangat luar biasa sekali, 35 peserta mengalami peningkatan yang signifikan.

Pada akhir pelatihan, antusias peserta masih tampak mendominasi suasana. Beberapa peserta tampil ke depan untuk memberikan testimoni mengikuti pelatihan ini.

Siti Azizah salah satu peserta mengaku masih “dlongop” apa itu  Computational Thinking. Dirinya masih bertanya tanya apakah keterampilan ini hanya dipakai untuk Sains atau bisa diaplikasikan pada materi lain. Namun setelah mengikuti pelatihan tatap muka ini, sedikit demi sedikit akhirnya pertanyaan itu terjawab.

“Betul-betul saya blank mengikuti pelatihan ini, apalagi pada hari pertama yang dilakukan secara daring. Namun setelah bertemu dengan pakarnya Computational Thinking, akhirnya saya sudah bisa mengatakan ternyata ini yang dimaksud dengan Computational Thinking yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran,” ungkap Azizah dengan lega. (sby/bel/rf)