Guru MTsN 1 Pemalang Ikuti Pelatihan Computational Thinking

Pemalang – Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pemalang tidak pernah berhenti untuk mengadakan inovasi di bidang pembelajaran sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran sehingga siswa mampu menyerap ilmu dengan menggunakan digital. Salah satu langkah tersebut adalah melalui Pelatihan Computational Thinking pada hari Senin (22/3) di aula MTsN 1 Pemalang. Pelatihan di mulai jam 09.00 -14.30 WIB  dan diikuti oleh 40 orang guru secara luring dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Sebagai instruktur dalam kegiatan tersebut adalah Arifah Purnamaningrum (dosen Fakultas Sains dan Teknologi) dan Syaiful Bakhri (dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Pembukaan kegiatan ini telah dilaksanakan secara virtual pada hari Kamis (18/3) mulai jam 09.00-14.30 WIB bertempat di aula madrasah yang berlangsung dengan lancar dan komunikatif.

Kepala Madrasah Mimbar menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar para guru MTsN 1 Pemalang menjadi pionir pelaksana Computational Thinking (CT) dalam pembelajaran baik lewat daring maupun luring dan bisa menularkan kepada guru dari madrasah yang lain.

Sebelum penyampaian materi Pelatihan CT dimulai, dilaksanakan penandatanganan Memorandum Of Understanding (MoU) antara MTsN 1 Pemalang dan Biro Bebras UIN Walisongo. Dari pihak MTsN 1 Pemalang diwakili oleh Sugianto atas nama kepala madrasah dan dari Biro Bebras UIN Walisongo Semarang diwakili oleh Arifah Purnamaningrum.

Computational Thinking adalah proses berfikir untuk memformulasikan persoalan dan solusinya, sehingga solusi tersebut secara efektif dilaksanakan oleh sebuah agen pemroses informasi yaitu berupa komputer, robot, atau manusia. Pemahamannya agar guru mampu melaksanakan pembelajaran melalui komputerisasi baik penyajian materi maupun pembuatan soal,” papar Arifah Punamaningrum.

Dalam CT siswa dibiasakan menyelesaikan masalah sehari-hari, di samping masalah terkait mata pelajaran di sekolah (melalui: abstraksi, dekomposisi, algoritma, dan pengenalan pola). CT terkait dengan informatika dan TIK, namun bukan berarti hanya bisa diterapkan pada bidang informatika saja, Mata pelajaran yang lainpun bisa menggunakan prinsip-prinsip CT dalam pembelajaran.

Dalam kegiatan ini juga dibentuk kelompok pembahas soal-soal yang terdiri dari enam kelompok. Setiap kelompok menganalisa modifikasi soal yang diberikan oleh instruktur kemudian setiap kelompok membuat modifikasi soal yang ditampilkan/dipresentasikan di depan forum. Sebagai kelompok pertama yang tampil adalah kelompok “tahu sumpel” (guru mapel bahasa Arab) dipresentasikan oleh Fauziyah Suciati Nurani, kelompok dua adalah kelompok “kamir” (guru mapel IPA) yang disampaikan oleh Sudirman, dan kelompok tiga adalah kelompok “gethuk” (guru mapel Seni Budaya) disampaikan oleh Fathonah Budiasih. Kelompok terakhir yang tampil adalah kelompok “klepon” (guru bahasa Inggris) dipresentasikan oleh Rizky Mariani.

Semua peserta pelatihan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan CT dengan antusias. Hal ini dapat diketahui dari aktivitas kelompok yang seluruhnya membuat soal berbentuk modifikasi dalam kerangka CT, juga hasil nilai post test menunjukkan nilai yang meningkat dari nilai pre test yang sebelumnya kurang dari KKM menjadi melampaui di atas KKM ( 75-100). Kesan dan pesan peserta pelatihan yang diwakili oleh Faizin menyampaikan bahwa kegiatan CT ini sangat bermanfaat bagi guru dalam mengembangkan kemampuan pembelajaran yang berbasis CT juga berharap agar ditindaklanjuti dalam tataran aplikasi pada setiap mata pelajaran. (faiz/fi/rf)