Sambut Masa Depan dengan Computational Thinking

Surakarta- Kementerian Agama (Kemenag) menekankan siswa madrasah memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan di masa depan. Sehubungan dengan hal tersebut, Kemenag akan memberikan kompetensi berpikir atau Computational Thinking (CT) untuk seluruh madrasah di Indonesia. MTsN Surakarta 1 menjadi salah satu madrasah pilot project belajar kreatif dengan CT dari 5 MTs se- Jawa Tengah. Untuk menindaklanjuti hal tersebut, MTsN Surakarta 1 menggelar Workshop Belajar Kreatif dengan Computational Thinking di Hotel Red Chillies Solo, pada Kamis (08/04/2021) mulai pukul 08.00 hingga 16.30. Kegiatan tersebut diikuti oleh Kepala Madrasah se-Kota Surakarta, Wakil Kamad bidang kesiswaan, dan perwakilan guru sebanyak 40 orang.

“Literasi membaca siswa saat ini masih kurang yang menyebabkan kreativitas siswa tidak berkembang. Pola pikir kreatif akan terwujud bila siswa mengembangkan pola pikir serta mampu merespon lingkungan sekitar dengan dengan cepat. Hal tersebut dapat dilatih dengan membaca. Siswa yang memiliki minat baca rendah juga kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal HOTS, karena bacaan dalam soal tersebut biasanya panjang-panjang,” tutur Kirno Suwanto, Ketua Workshop. “Dalam rangka meningkatkan kompetensi Guru MTs se-Kota Surakarta, khususnya kompetensi profesional maka KKMTs Kota Surakarta bekerja sama dengan Biro Bebras UMS Surakarta dalam kegiatan workshop ini,” tambah Kirno. Kirno juga menyampaikan alasan keikutsertaan madrasah lain dalam workshop karena kegiatan tersebut merupakan program kerja Madrasah Sahabat MTs Kota Surakarta.

Kegiatan Workshop dibuka oleh Kankemenag Kota Surakarta, H. Hidayat Maskur. “Orang yang bisa menempatkan diri dan mengetahu situasi termasuk orang yang soleh. Orang yang mampu memimpin dunia adalah orang yang mampu berpikir di luar pemikiran orang lain. Sedangkan orang yang sukses adalah orang yang bisa berpikir ketika orang lain sudah tidak bisa berpikir,” papar Hidayat. Beliau juga berpesan agar peserta workshop mengikuti kegiatan ini dengan sebaik-baiknya. “CT dapat membantu siswa dalam memecah masalah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah untuk mencari solusi. Dengan melihat pengertian tersebut maka sangat baik apabila CT diterapkan dalam dunia pendidikan. Silahkan ikuti workshop ini dengan baik, agar bapak ibu guru dapat mentransferkan hal ini kepada para siswa,” pesan Hidayat.

Peserta workshop mengikuti kegiatan dengan antusias. Durasi waktu yang lama pun tidak mebuat peserta merasa bosan. “Banyak hal ketidakpastian di masa yang akan datang dan para pendidik harus menyiapakan para peserta didik untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. Sebagai pendidik, saya sangat setuju bahwa cara berpikir komputasi ini sangat diperlukan siswa agar mereka bisa mengatasi permasalahannya. Mari kita biasakan siswa belajar dengan cara berpikir tingkat tinggi,” ajak Nur Asih, salah satu peserta workshop.

Bebras merupakan sebuah inisiatif internasional yang bertujuan untuk mempromosikan CT. Tim Bebras Universitas Muhammadiyah Surakarta merupakan tim yang menjadi narasumber dalam workshop. Materi Belajar Kreatif dengan Computational Thinking disampaikan oleh Irma Yuliana. Materi Implementasi Computational Thinking dalam Pembelajaran oleh Chistina Kartika Sari. dan Computational Thinking and Classroom Ideas (LKPD) oleh Muhammad Toyib. (Diana/Duwi)