Penguatan Literasi Al Qur’an dalam Bingkai Moderasi Beragama

Mungkid – LPMQ Kemenag RI melaksanakan sosialisasi dan penguatan literasi pemeliharaan Al Qur’an melalui kegiatan Diseminasi Hasil Kajian LPMQ dengan tema Penguatan Literasi Al-Quran dalam Bingkai Moderasi Beragama di Pondok pesantren Al Iman, Muntilan, Kamis (20/01/2022).  Kegiatan tersebut diikuti oleh para pengasuh Pondok Pesantren, Kepala Madrasah, Takmir Masjid, Penyuluh Agama Islam, dan para Ustadz pengampu tahfidz Al Qur’an.

Direktur Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ) Kemenag RI, Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, MA sebagai narasumber menyampaikan bahwa upaya pemeliharaan Al Qur’an melalui berbagai usaha, antara lain melalui pembentukan Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Tim Penerjemah Al Qur’an dan penulisan tafsirnya, Lembaga Pendidikan dan Pengajaran Al Quran, dan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

“Sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1982, yang isinya antara lain menyebut tugas-tugas Lajnah Pentashih, yaitu pertama, meneliti dan menjaga mushaf Al Qur’an, rekaman bacaan Al Quran, terjemah dan tafsir Al Qur’an secara preventif dan represif; kedua, mempelajari dan meneliti kebenaran mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an untuk tunanetra (Al-Qur’an Braille), bacaan Al-Qur’an dalam kaset, piringan hitam dan penemuan elektronik lainnya yang beredar di Indonesia; dan ketiga, menyetop peredaran Mushaf Al-Qur’an yang belum ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an,” papar Muchlis.

Muchlis menyampaikan seiring berkembangnya teknologi digital dan informasi, inovasi digitalisasi literasi Alqur’an dilakukan dalam bentuk Qur’an Kemenag yang bisa diunduh dari Playstore, konten Youtube Episode Untuk Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW), serta ratusan judul kitab dan buku literasi Al-Qur’an.

Indonesia saat ini menjadi rujukan beberapa Negara Islam Timur Tengah dan belahan Eropa dalam menampilkan toleransi harmoni ditengah-tengah ragam suku, adat, budaya, bahasa, agama dan ribuan kepulauan.

“Sehingga saatnya banyak literasi KeIslaman Indonesia yang diterjemahkan dan ditransformasikan ke dalam bahasa asing serta akan dikirim pertukaran agamawan muda untuk menjadi duta misi wasathiyatil Islam,” lanjut Muchlis.

Muchlis menyampaikan yang menjadi keprihatinan dan masalah bersama adalah masyarakat Islam Indonesia masih lemah literasi ke-Islaman-nya, ditandai saat semangat ke-Islaman-nya meninggi tetapi di sisi lain sensivitas beragama juga meningkat.

“Dalam gagasan moderasi bergama adalah bagaimana umat Islam Indonesia bisa hadir disaksikan dan mempersaksikan kebaikan-kebaikan dalam konsep ummatan wasathan untuk terus diperjuangkan dalam penguatan literasi Al Qur’an dengan konsep wasathiyah,” tegas Muchlis.

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Islam Al-Iman, Dr. Muhammad Zuhaery, MA., sebagai tuan rumah mengucapkan terima kasih karena kegiatan tersebut kunjungan balasan keluarga Pondok Pesantren Islam Al-Iman ke LPMQ beberapa waktu lalu

“Hal ini tentu menjadi berkah ilmu dan jaringan bagi lembaga pendidikan dalam memperkuat program  dan jaringan sinergitas tahfidz Al Qur’an bagi lembaga dan santri. Bahwa sebaiknya umat adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya dengan metode terbaik sehingga menghasilkan output kualitas kader Al Qur’an setia kepada NKRI,” kata Zuhaery.

Koordinator Program Tahfidz Pondok Al-Iman, Ustadz Abdul Rosyid, menyampaikan pentingnya penguatan dasar-dasar tahsin dalam tahfidz Al-Qura’an bagi para pengajar khususnya dan santri pada umumnya.

“Agar jangan memburu target hafalan tetapi agar memperkuat penguasaan qoidah tajwid, tashih dan tartil para calon hafidz/hafidzah, dengan tujuan kemurnian pelafalan ayat-ayat dan kualitas hifdzilqur’an bisa terjaga, sebab lebih sulit memperbaiki bacaan seseorang daripada menghafalkan surah atau ayat-yat Al-Qur’an,” kata Abdul Rosyid.(atok/Sua)