RA Al Hikmah Tanamkan Moderasi Beragama Pada Siswa Melalui Sudut Literasi

Semarang – Satuan pendidikan Raudhotul Athfal (RA) Al Hikmah Kecamatan Tembalang mempunyai gebrakan cerdas dalam menanamkan moderasi beragama bagi siswa didiknya. Upaya yang dilakukann adalah membuat sudut literasi moderasi beragama yang berisi gambar, tulisan, dan berbagai miniatur tempat ibadah.

Kepala RA Al Hikmah, Ismiyah Ira Puspita mengatakan, sudut moderasi beragama yang ditata di setiap pojok kelas dimaksudkan sebagai upaya membiasakan anak untuk ramah terhadap perbedaan agama dan sekaligus kuat dalam ketaatan pada agamanya. Penanaman dan penguatan pendidikan karakter (PPK) moderasi beragama bagi siswa RA dilakukan melalui pembiasaan.

“Ketika anak sering melihat dan bermain di sudut moderasi beragama, insyaAlloh karakter moderat anak akan terbangun dan membudaya,” jelas Ismiyah kepada pengawas madrasah Kemenag Kota Semarang, Amhal Kaefahmi, Selasa (22/3).

Ciri khas pembelajaran pada RA adalah mengintegrasikan nilai-nilai Islami dalam setiap fasilitasi, stimulasi dan pemberian dukungan (scaffolding) semua aspek perkembagan anak, yakni nilai agama dan moral, fisik motorik, bahasa, kognitif. Sosial emosional, dan seni. Pembelajaran  pada anak usia dini, termasuk anak RA dikemas melalui kegiatan bermain yang menyenangkan.

“Pembelajaran pendidikan agama Islam diintegrasikan pada semua optimalisasi aspek perkembangan anak melalui kegiatan bermain,” kata kepala RA yang sering disapa dengan bunda Ira ini penuh semangat.

Ditambahkan Ira Puspita, penataan sudut moderasi beragama di lembaga yang dipimpinnya merupakan imbauan dari pengawas madrasah, Amhal Kaefahmi yang dalam pembinaannya meminta semua RA di wilayah binaan untuk membuat sudut moderasi beragama.

Menurut Amhal Kaefahmi, moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Penananan PPK moderasi beragama untuk anak usia dini dilakukan dengan pembiasaan dan kegiatan bermain seperti penataan gambar, tulisan, maupun miniatur tempat ibadah yang dapat sering dilihat oleh anak.

“Moderasi beragama pada anak usia dini tidak bisa hanya diajarkan semata, melainkan dibiasakan dengan alat permainan edukatif (APE) yang sederhana,” tutur Amhal Kaefahmi.

Ditegaskannya, indikator sikap dan perilaku keberagamaan moderat siswa madrasah di Indonesia, termasuk RA harus mempunyai visi rahmatan lil alamin, komitmen kebangsaan, adil terhadap sesama, persaudaraan, akomodasi budaya lokal, santun dan bijak, inovatif, kreatif, dan mandiri.

“Stimulasi dirancang dengan cara memperkaya lingkungan yang akan menyuburkan interaksi anak dengan lingkungan di sekitar, termasuk pendidik dan orangtua,” tegasnya.

Amhal Kaefahmi minta, proses stimulasi akan memberikan dampak yang optimal pada peningkatan karakter, keterampilan, maupun pengetahuan anak. Stimulasi tersebut dilakukan pada semua aspek perkembangan anak, baik dari aspek moral dan agama, fisik motorik, emosi dan sosial, bahasa, dan kognitif melalui kegiatan bermain.(Amhal Kaefahmi/bd)