Sambut Ramadan, Pemkab Gelar Acara Kartini Mengaji

Rembang – Hari Kartini tahun ini merupakan hari yang spesial karena jatuh bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Rembang menggelar kegiatan “Kartini Mengaji” pada Rabu (20/04) di Pendopo Museum RA Kartini Rembang.


Kegiatan itu dihadiri oleh Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz, anggota DPRD Jateng, Abdul Aziz, Bupati Rembang H. Abdul Hafidz, Wabup Rembang, H. M. Hanies Cholil Barro, dan sejumlah pejabat OPD dan Kementerian di Kabupaten Rembang. Hadir pula Penyuluh Agama Islam Kemenag Rembang, Moh. Mukhlisin.


Dalam sambutannya, H. Abdul Hafidz mengatakan, Kartini Mengaji ini merupakan rangkaian dari program Gema Kartini yang terdiri atas berbagai kegiatan, baik di ekonomi, budaya dan keagamaan. Bupati menyampaikan, keteladanan semangat dan perjuangan RA Kartini yang harus diapresiasi dalam memperjuangkan bangsa Indonesia terutama kaum wanita untuk maju, cerdas dan berkepribadian.


“Kita harus mampu meneladani semangat dan perjuangan RA Kartini yang telah mampu mendobrak kungkungan dari kolonialis Belanda. Belanda ini menginginkan bangsa kita tidak boleh belajar dan tidak boleh pintar. Dengan semangat yang dilandasi oleh intelektualitas dan keimanan yang kokoh serta bekal ilmu agama yang didapat dari belajar dengan Mbah Sholeh Darat RA, Kartini mampu membawa bangsa kita terutama kaum perempuan untuk maju, cerdas dan berkepribadian,” ujar Bupati.


Sementara Abdul Aziz menyampaikan refleksi Kartini Mengaji dengan mengulas sejarah RA Kartini ketika mengaji dengan Mbah K. H. Sholeh. Terutama tentang tafsir al Quran surat Al Baqarah ayat 257. Ayat ini menjadi inspirasi terbitnya buku karya RA Kartini yang berjudul “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” yang sangat monumental saat ini.


Kegiatan itu ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh K.H. Amir Mahmud dari Pamotan. Beliau mengatakan yang pertama kali memproklamirkan emansipasi wanita adalah islam.


“RA Kartini adalah tokoh emansipasi wanita. Yang pertamakali memproklamirkan emansipasi wanita adalah Islam karena Islamlah yang mengangkat derajat kaum wanita. Sebelum datangnya Islam wanita dianggap rendah derajatnya, hanya sebatas untuk melayani kaum lelaki,” tutur KH. Amir Mahmud. —iq/rf