Kebhinekaan Indonesia adalah Suatu Anugerah yang Harus Disikapi dengan Kemoderatan

Semarang, Bertempat di aula Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Semarang, Musta’in Ahmad Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Tengah berkesempatan memberikan pembinaan, Rabu (11/5/2022).

Peserta pada kegiatan pembinaan tersebut adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kankemenag Kota Semarang, terdiri dari Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi, Penyelenggara, Kepala Madrasah Negeri, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), pengawas madrasah dan Pendidikan Agama Islam (PAI), penyuluh dan guru lintas agama, berjumlah 80 orang.

Musta’in Ahmad dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan serta mohon maaf lahir dan batin kepada peserta kegiatan, serta mengajak kepada seluruh yang hadir untuk selalu berucap syukur atas segala anugerah sebagai orang yang hidup di Indonesia. “Belajar dari Idul Fitri, kita bersyukur memiliki tradisi yang baik. Bila dibandingkan dengan negara lain kita diberi Allah SWT banyak kelebihan mulai dari penciptaan tanah kita yang terkenal sebagai tanah surga. Betapa beruntungnya kita lahir dan tinggal di Indonesia sampai akhir di hari tua dan menutup mata,” tuturnya.

“Orang Islam dalam menjalankan ibadah di Indonesia lebih mudah dibandingkan di negara lain, sehingga menjalankan fikih lebih mudah di Indonesia dibandingkan di negara lain, contohnya di Jerman, matahari terbit jam 4 pagi dan tenggelam pada jam 8 malam, bagaimana sulitnya menjalankan puasa di sana,” lanjutnya.

Lebih lanjut Musta’in Ahmad menuturkan anugerah lain yang diberikan Allah kepada Indonesia adalah kebhinekaannya, baik dalam agama, ras, suku, sosial, ekonomi dan masih banyak lagi perbedeaan lainnya. “Di Indonesia sering kali kita menggunakan panggilan atau sapaan saudara-saudara. Sapaan ini dipopulerkan oleh Bung Karno yang bermakna bahwa kita semua adalah saudara. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tetapi di mata Alloh kita semua sama dan yang membedakan hanyalah ketakwaannya,” terangnya.

“Alhamdulillah nusantara kita ini dikaruniai Allah untuk menemukan Tuhan yang pertama kali dalam bentuk animism, dinamisme kemudian berkembang melalui pewarta agama menjadi agama Hindu dan Buddha yang dari sana maka kita mengenal semboyan Bhineka Tunggal Ika. Dulu Islam di Indonesia pemeluknya sebanyak 0% kemudian datanglah pendakwah-pendakwah agama dari tahun 800an, dan tahun 1952 diadakan sensus penduduk  diketahui pemeluk agama Islam sebesar 90% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Tahun 2022 diadakan sesnsus ulang, hasilnya pemeluk agama Islam sebesar 85%. Walupun terjadi penurunan jumlah pemeluk agama, tidak ada yang merasa menang atau kalah, tetapi kita jalani saja dalam bingkai negara yangh berbhineka ini,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, ia juga mengucap syukur meskipun pandemi Covid-19 mendera Indonesia tetapi tetap memberikan kemaslahatan kepada Kementerian Agama. “Alhamdulillah walaupun pandemi Covid-19 mendera negara kita, tetapi pendaftar haji di Indonesia khususnya Jawa Tengah masih banyak, bahkan di kota Semarang daftar tunggunya hingga puluhan tahun. Madrasah-madarasah kita tahun ini sampai menolak murid, pesantren-pesantren dibanjiri pendaftar yang orangtuanya tidak pernah nyantri. Hal ini bertanda kesadaran beragama muslim Indonesia semakin meningkat,”ujarnya.

Pada bagian lain, Musta’in Ahmad menuturkan, kebhinekaan yang ada diiringi dengan adanya kemajuan teknologi, sering kali disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sebagai sarana pemecah persatuan bangsa. “Belakangan ini ada kecenderungan orang membawa agama tidak dengan wajah aslinya, dan dengan transformasi digital informasi ada 2 kecenderungan yaitu orang yang sangat tekstualis dan konstekstual. Di Indonesia, seorang ustadz tidak ada pelantikannya sehingga bila tidak dikelola dengan baik hanya bermodal PD (percaya diri) maka akan mengalami kekacauan. Agar tidak terjadi kekacauan kita perlu beragama secara moderat. Artinya ditengah-tengah tidak berlebih-lebihan di sisi kanan atau kiri karena kita ingin menampilkan agama dengan wajah aslinya dimana wajah asli agama adalah merubah orang yang pesimis menjadi optimis, wajah asli agama adalah merukunkan orang yang bertikai bukan memecah orang yang rukun,” pungkasnya.(Dintha/Arya/Tanto/NBA/bd)