Senin, 13 Maret 2017, 13:41

Membangun Peradaban Bangsa dengan Tradisi Antri

Tragis, mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang dari hari ke hari semakin tidak mengenal budaya antri. Betapa di setiap sudut negeri yang terkenal dengan keramahannya, budaya antri semakin asing dan bahkan bisa dikatakan mendekati kepunahan.

Fenomena itu jelas terlihat dari banyaknya kejadian-kejadian fenomena dalam sejarah bangsa. Kasus meninggalnya orang yang mengantri zakat, kerusuhan di antrian tiket sepakbola dan banyak kasus lainnya. Bahkan, untuk antri di kasir saja yang tidak sampai 4-5 orang, tetap saja budaya antri masih menjadi sesuatu yang sulit dilaksanakan sampai-sampai di setiap kasir selalu ada tali penyekat untuk memaksa orang antri meski masih saja terjadi penyerobotan yang sering dilakukan ibu-ibu yang sok merasa sibuk dan tidak punya waktu untuk antri.

Sebenarnya, jika mau jujur, sikap mau antri itu adalah hal yang sangat penting. Bahkan kabarnya, di negara tetangga, orang-orang lebih memilih anaknya dididik di sekolah untuk bisa antri daripada sekedar menguasai sains atau disiplin ilmu lainnya. Bagi mereka, sikap mau antri sangat mahal mengingat perlu waktu bertahun-tahun untuk menanamkannya dalam diri anak-anak dibanding sains atau matematika yang cukup 2-3 bulan untuk menguasainya. Apalagi, semacam sains atau matematika dan disiplin ilmu lainnya tidak sepenuhnya diperlukan dalam kehidupan anak-anak mereka dibanding sikap antri yang akan terus diperlukan untuk keberlangsungan sikap positif dalam diri anak-anak untuk mengarungi kehidupannya.

Semuanya, kalau mau dirunut, tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak hal yang menyebabkan sikap mau antri tidak menjadi budaya di negeri kita. Faktor penyebab bisa dari internal dan Eksternal setiap individu masyarakat kita. Faktor internal bisa berupa pemahaman yang keliru tentang pentingnya budaya antri ditambah tingginya egoisme individual yang seringkali merasa lebih berhak didahulukan dan malas untuk mengantri.

Faktor eksternal terlalu luas untuk dijabarkan. Pendidikan keluarga, pendidikan di sekolah dan bahkan pergaulan di masyarakat sendiri menjadikan bibit-bibit anti antri semakin tumbuh dan berkembang di diri tiap individu. Semuanya, faktor internal dan eksternal, berkelindan dalam pemikiran dan sikap keseharian dan kemudian menjadi tabiat dan gaya hidup yang tidak sehat.

Alasan yang paling mencolok dari semakin punahnya budaya antri di masyarakat adalah pemahaman yang keliru akan pentingnya budaya antri meski alasan ini juga setali tiga uang dengan background keluarga, sekolah dan masyarakat yang menjadi pusaran permasalahan antri di masyarakat kita. Individu yang tidak lagi menganggap antri sebagai hal vital dalam kehidupan akan berlaku seperti parasit ditengah segelintir masyarakat yang berusaha menanamkannya dalam diri mereka dan orang terdekat mereka.

Betapa tidak, ketika kita berusaha mati-matian antri, di depan mata ada orang yang menyerobot dengan santainya tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Belum lagi jika hal itu membuat orang lain yang antri menjadi goyah dengan pendiriannya dan ikut-ikutan mencoba menerobos antrian, hancur sudah. Hal itu akan lebih parah ketika terjadi pada anak-anak kita yang masih belum kuat pemahamannya yang cenderung lebih mempunyai sifat ikut-ikutan.

Berkaca dari kenyataan itu, maka budaya antri menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat dari segala usia khususnya orang yang lebih dewasa yang menjadi teladan yang selalu ditiru oleh yang lebih muda. Jika yang tua sudah mencontohkan dan yang muda mau meniru tindak tanduk orang yang lebih tua, maka bukan tidak mungkin (bahkan pasti) jika budaya antri di masyarakat kita akana seperti di Singapura atau Jepang.

Perubahan secara radikal untuk memaksa masyarakat agar bisa antri mungkin menjadi hal yang sangat sulit, jika tidak bisa dikatakan tidak mungkin. Hal ini mengingat kompleksnya persoalan sikap anti antri di masyarakat kita yang sudah mendarah daging dan menjadi tabiat hampir semua individu di negeri kita, tanpa menafikan ada segelintir orang yang mempunyai pandangan dan perilaku yang berbeda tentang sikap antri.

Secara tidak langsung, perubahan sikap di masyakat hanya bisa dilakukan dalam jangka panjang dan memerlukan langkah panjang dan berat untuk mewujudkannya. Hal itu bisa dilakukan dengan penanaman dalam diri anak-anak kita akan pentingnya sikap mau antri dan tentunya keteladanan nyata dari orang tua yang lebih mungkin untuk mereka tiru dan lebih mudah untuk masuk dalam memori mereka sebagai sebuah pandangan hidup.

Memang tidak mudah, akan tetapi jika dilakukan dengan keinginan yang kuat dan kesadaran untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dan dilakukan bersama-sama di komunitas masing, maka pekerjaan yang berat itu akan menjadi ringan dan akan saling melengkapi dari masing-masing individu di tiap komunitas itu sendiri.

Kementerian agama, sebagai bagian dari pemerintahan negara, mempunyai tugas yang sama dengan kementerian lainnya untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa mewujudkan masyarakat berperadaban. Tugas itu bisa diwujudkan di semua elemen Kementerian agama.

Merujuk dari pemikiran di atas, madrasah lah yang paling memungkinkan menjadi garda terdepan kementerian agama untuk mewujudkannya masyarakat berbudaya antri. Mengapa? Madrasah mempunyai jenjang yang jelas dan berkelanjutan di mulai dari MI, MTs, MA yang jika dikalkulasi semuanya membutuhkan waktu 12 tahun untuk menuntaskannya.

Waktu yang panjang itu lah yang bisa diefektifkan untuk menanamkan sikap antri dalam diri anak dengan penanaman pemikiran, penanaman contoh, penanaman praktik di lingkungan madrasah mulai dari kantin, perpustakaan, masjid saat berwudlu dan lain-lain.

Ya, disamping harus ada penanaman pemikiran tentang pentingnya budaya antri, pencontohan dan praktik langsung di keseharian mereka di Madrasah juga lebih penting lagi mengingat antri lebih bersifat praktik nyata dibanding sekedar pengetahuan tanpa makna karena tidak dilaksanakan.

Guru-guru di madrasah harus terus mananamkan pemikiran antri, menegur yang belum bisa melakukannya, memberi pengertian lagi, mempraktikannya lagi dan seterusnya dengan Istiqomah. Jika hal ini bisa dilakukan, pasti lulusan-lulusan madrasah akan menjadi pioneer dan menjadi Duta Antri di asalnya masing-masing yang kemudian bisa mewujudkan masyarakat dengan berbudaya Antri atau paling tidak, jika hal itu meleset dari pencapaian, akan ada istilah Madrasah Antri di masyarakat sebagai penyeimbang dan sebagai pengingat bahwa Antri itu penting. Semoga..

(MIN Grogol Weru Sukoharjo)