Rabu, 5 April 2017, 14:40

Kalau Tidak Ingin Aib Kita Dibuka Maka Jangan Membuka Aib Saudara Kita

Tak ada gading yang tak retak kata pepatah yang artinya tak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam rupa, tapi ada kekurangan dalam gaya bicara. Boleh jadi pandai berbicara, tapi tidak mampu menjalaninya, Boleh jadi kelihatan santun, tapi tidak mampu menahan emosinya, pokoknya kalau kuat di satu sisi, tapi rentan di sisi yang lain, pasti yang namanya manusia itu mempunyai kelemahan.

Seorang mukmin apalagi yang bertaqwa mesti cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang, apa pun orang yang sedang dinilai, keadilan tak boleh dilupakan. Walaupun terhadap orang yang tidak disukai. Yakinlah kalau di balik keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain.

Ketahuilah jika Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang, ia akan membuat orang itu dapat melihat aib-aibnya. Orang yang memiliki bashirah (mata hati) yang tajam akan mengetahui aib-aibnya. Jika ia telah mengetahui aib-aibnya, maka ia dapat mengobatinya. Namun kebanyakan orang tidak mengetahui aibnya sendiri. Manusia dapat mengetahui kotoran yang terdapat di mata temannya, tetapi ia tidak mampu melihat kotoran di matanya.

Ketika seorang mukmin membuka dan menyebarkan aib saudaranya, ada dua kesalahan yang dilakukan sekaligus. Pertama, ada nilai keagungan Islam yang terkotori karena reaksi yang muncul memojokkan umat Islam, terlebih yang kita sebar aibnya adalah orang yang selama ini kita anggap baik sebagai pendakwah misalnya, yang terlontar adalah kata-kata " munafik... atau gak nyangka ck ckc ck..."

Kedua, orang yang gemar menyebarkan aib saudaranya, sebenarnya tanpa sadar sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Antara lain, tidak bisa memegang rahasia, lemah kesetiakawanan, dan penyebar berita bohong. Semakin banyak aib yang ia sebarkan, kian jelas keburukan diri si penyebar.

Ego manusia sombong selalu mengatakan kalau akulah yang selalu baik. Dan yang lain buruk. Dominasi ego seperti inilah yang kerap membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri tak pernah terlihat. Padahal, kalau bukan karena kebaikan Allah menutup aib diri kita, niscaya kita akan ngumpet karena malu, karena orang lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebelum memberi reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah secara jernih seperti apa mutu diri sendiri. Lebih baikkah? Atau, jangan-jangan lebih buruk. Dari situlah ucapan syukur dan istighfar mengalir dari hati yang paling dalam. Syukur kalau diri ternyata lebih baik. Dan istighfar jika terlihat bahwa diri sendiri lebih buruk.

Tatap aib saudara mukmin lain dengan pandangan baik sangka. Mungkin ia terpaksa. Mungkin itulah pilihan buruk dari sekian yang terburuk. Mungkin langkah dia jauh lebih baik dari kita, jika berada pada situasi dan kondisi yang sama. Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.

Membuka aib seorang mukmin berarti memperlihatkan aib sendiri dan diam adalah pilihan terbaik ketika tidak ada bahan ucapan yang baik. Simpanlah aib seorang teman dan saudara sesama mukmin, karena dengan begitu; kelak, Allah swt., akan menutup aib kita di hadapan manusia. (Athi/bd)

Berita Lainnya
Kamis, 2 Maret 2017, 13:46

Terwujudnya ASN Yang Berakhlakul Karimah