Artikel

Halaman Artikel

Ciri Iman Bermasalah, Kedatangan Ramadan Dimaknai Biasa Saja

Oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang - 23 Mei 2019

Anjuran Menyambut Bulan Ramadan dengan Gembira

Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58). Ayat diatas menunjukkan dalil/dasar anjuran agar kita bergembira, bersuka hati menyambut kedatangan bulan Ramadan, oleh karena keistimewannya.

Kenangan Masa Anak-anak

Dahulu ketika masih anak-anak, kita sangat senang dengan datangnya bulan ramadan, apakah kesenangan itu disebabkan libur sekolah, karena keramaian di masjid dan mushala atau pula karena beraneka macam makanan yang disajikan dimeja makan menjelang buka puasa tiap harinya. Pada prinsipnya datangnya ramadan membawa kegembiraan tersendiri.

Beranjak usia dewasa kegembiraan terhadap datangnya bulan ramadan malah seakan luntur bahkan hilang, seolah kedatangan ramadan tidak ada yang istimewa, sama dengan bulan-bulan lainnya. Datang dan perginya bulan ramadan tanpa bekas tersisa, bahkan adanya pikiran kebutuhan semakin besar dengan kedatangn bulan berikutnya yaitu bulan syawal dan perayaan Idul Fitri.

Budaya perayaan Idul Fitri ditanah air khususnya di Jawa, identik dengan pesta pora dan hura-hura walaupun disana ada nilai silaturohimnya, kunjung mengunjung guna bermaafan, namun selalu diwarnai dengan semangat hedonisme; pakaian baru, kendaraan baru, makanan aneka warna, belum lagi adanya acara jalan-jalan dan rekreasi, seolah telah menjadi menjadi budaya bagi kita.

Hingga datangnya hari kemenangan Idul Fitri diibaratkan "simalakama," datangnya dinanti-nanti namun juga membawa beban pikiran tersendiri guna memenuhi kebutuhan hedonis dalam perayaan tersebut.

Kegembiraan Menyambut Bulan Ramadan

Kembali ke masalah kegembiraan menyambut bulan Ramadan, dalam hadist disebutkan mengenai anjuran menyambut bulan ramadan dengan kegembiraan, penuh harap dan antusias memanfaatkan keistimewaannya. Bagaimana dengan keadaan hati yang biasa saja, merasa tidak ada yang istimewa terhadap bulan ramadan atau bahkan sedih, tidak merasa senang?. Dari sisi ekonomi diibaratkan bulan ramadan membawa kebutuhan tersendiri guna melakoninya.

Keadaan hati yang seperti itu, beberapa ulama mengatakan sebagai masalah keimanan, ada yang salah dalam imannya (dr. Raehanul Bahraen dalam artikel Muslim.or.id).

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya ramadan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa, bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak, bagaimana iman dan aqidahnya.

Sering kita mendengar kajian-kajian tentang keistimewaan dan pemanfaatan bulan ramadan berikut amalan-amalannya, baik oleh media jemaah atau media elektronik, banyak pengajian-pengajian yang membahas tentang itu, apalagi di bulan ramadan. Namun kita serasa bebal, kepala batu, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak membekas dan tidak memberi spirit kita untuk meningkatkan amal ibadah kita dalam bulan ramadan. Sudah bosankah kita dengan itu semua, dengan ritual-ritual pemanfaatan bulan ramadan.

Sungguh bahaya keadaan iman yang seperti itu, ciri iman yang mulai tergerus, iman turun atau  bahkan iman yang hilang juga iman yg bermasalah.

Padahal sudah menjadi pengetahuan kita bersama, mati tanpa iman adalah mati suul khotimah, amal tanpa iman adalah sia-sia belaka, bagai debu tertiup angin hilang tanpa bekas karena tidak adanya iman.

Sebab Berkurang atau Hilangnya Iman

Diantara sebab berkurang atau hilangnya Iman seseorang hamba menurut Ustadz Kholid Syamhudi, Lc dalam tulisannya pada artilkel www.muslim.or.id diantaranya:

Pertama: Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar berkurangnya iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman.

Kedua: Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.

Ketiga: Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Allah Ta’ala menambah iman, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Ta’ala mengurangi iman.

Tiga perkara diatas yang sering menjadikan iman seseorang berkurang. Jika keadaan tersebut terus ada dan terus dilakukan, bukan tidak mungkin Iman itu akan hilang. Sehingga agar Iman tidak semakin turun atau bahkan hilang perlu dilakukan hal-hal yang dapat menambah keimanan.

Solusi dari Masalah Keimanan

Jalan keluar dari masalah keimanan lebih khusus dalam masalah menyambut bulan ramadan ini perlu dilakukan antara lain:

* Merenungkan keistimewaan bulan ramadan

1. Pintu suga dibuka dan pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila ramadan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”

Menurut Al Qodhi dalam tafsir hadistnya ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan ramadan, seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan ramadan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat, inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat.

2. Terdapat Malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan

Pada bulan ramadan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah Ta’ala memuji bulan ramadan (bulan puasa) dibanding bulan-bulan lainnya. Di bulan ramadan tersebut, Allah memilihnya sebagai waktu turunnya Al Qur’an yang mulia.” Ini menunjukkan bahwa bulan ramadan adalah bulan yang istimewa dari bulan lainnya.

3. Bulan ramadan adalah salah satu waktu dikabulkannya Do’a

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

4. Amalan yang berlipat pahalanya di bulan ramadan

Ada beberapa dalil yang menunjukkan pahala yang berlipat pada sebagian amal dan sebagian waktu di bulan ramadan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.

Masih banyak keistimewaan bulan ramadan yang masih dapat kita gali dan dipelajari. Yang menjadi pertanyaan adalah begitu istimewa dan luar biasanya fasilitas Allah yang diberikan pada bulan ramadan, namun kita memperhatikan dan tidak mau memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan dan fasilitas itu. Sebab belum tentu tahun depan kita dapat bertemu lagi dengan ramadan.

* Menjaga dan meningkatkan keimanan

Bagimana solusi dari masalah tergerusnya iman bahkan hilangnya Iman. Masalah keimanan perlu penanganan, perlu solusi agar masalah keimanan tersebut segera tertangani dan iman kembali ke dada, syukur bisa iman meningkat.

1. Menjaga keimanan

Bagaimana cara menjaga iman agar tetap di dada dan keimanan meningkat. Sudah ada formulanya dari Nabi Muhammad. Lihat kitab Al Bukhari jilid yang pertama kitab yang pertama kitabul iman. Di dalam kitab tersebut nabi menerangkan bagaimana menjaga Iman agar tetap tidak turun.

Rumus pertamanya adalah Iman itu bisa naik bisa turun, bertambah, berkurang dan ia bisa naik dengan mengerjakan banyak ketaatan dan itu rumusnya, yaitu tingkatkan amal sholeh. Sholatnya naik jadi salat Sunnah Dhuha, Tahajud dan sunah lainnya.

Rumus keduanya adalah  tutup jalur maksiat. Tangan jaga dari maksiat, mata jaga dari maksiat, pikiran jaga dari maksiat, telinga jaga dari maksiat, kaki jaga dari maksiat karena jika sumber maksiat sudah masuk ke dalam tubuh kita, cahaya iman tidak akan bisa masuk karena tertutup dengan maksiat. Quran surah 6 ayat 25 : Allah SWT berfirman:

“Diantara mereka ada yang mendengarkan bacaanmu (Muhammad), dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan telinganya tersumbat. Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 25)

Telinga tersumbat karena sering dengan maksiat, bukan gak bisa dengar, mereka itu dengar tapi tidak bisa nyambung dengan kejiwaannya. Misalnya ketika adzan dikumandangkan, Allahu Akbar Allahu Akbar, dia bisa mendengar dengan telinganya suara adzan tersebut, tetapi adzan tersebut tidak terdengar hingga masuk ke jiwanya dan sampai menyentuh jiwanya. Bagaimana mau masuk, tiap hari kerjaannya ghibah melulu, dengerin musik yang nggak jelas sana sini masuk sana sini, jadinya maksiat dengan telinganya.

Ada juga yang maksiat lewat mata mohon maaf sebelumnya melihat gambar-gambar yang aneh,  gambar-gambar tidak harus ditonton , melihat isi handphone yang isinya maksiat dan dan sebagainya, itu kalau terbiasa melihat maksiat, melihat yang baik-baik itu sudah tidak peka lagi.

Satu contoh ketika adzan berkumandang, kita melihat orang-orang lewat jalan menuju masjid untuk pergi ke masjid tapi kita tidak ke masjid walaupun kita lewat depan masjid dan melihat banyak orang pergi ke Masjid tapi kita tidak pergi ke mesjid. 

Begitu juga sebaliknya jika tidak pernah berbuat maksiat dan kemudian berbuat maksiat maka hatinya akan memaksa dan mengatakan jJangan lakukan itu. Hatinya bakalan gelisah, tidak tenang. Misalnya kita melihat ada handphone milik orang lain, terus kita ambil handphone itu dan pasti didalam hati bakalan berkata jangan ambil itu bukan milik kamu.

2. Memahami dan merasakan keistimewaan yang Allah berikan pada bulan ramadan.

Dalam hadist-hadist Nabi Muhamad SAW digambarkan, ada dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan ramadan. Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Barang siapa yang berpuasa ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan kedua digambarkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah),

Bulan ramadan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia guna meraih surga dan keberkahan.(Abu Thoyib/Sua).


Dibaca sebanyak 66 kali

Web Profile Kemenag Jateng


Web Profile Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah merupakan web mandiri yang dibangun dalam rangka untuk memperkenalkan Kementerian Agama Provinsi Jateng terkait dengan tugas, fungsi dan layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Adanya web profile ini diharapkan dapat memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Berita Terbaru


Pembukaan Pospeda VIII Tahun 2019 Sukses dan Meriah Subbag Inmas 07 - 13 September 2019


Banyak Prestasi Yang Di Capai Kemenag Jawa Tengah Subbag Inmas 02 - 13 September 2019

Informasi Penting


Materi Workshop SDM Hukum 23082019 Administrator - 29 Agustus 2019



Kontak Info


Alamat Kantor Jl. Sisingamangaraja No.5 Semarang
Telp: 024-8412547 Fax: 024-8315418

Media Sosial