Artikel

Halaman Artikel

Eksotika Syiar Seni Musik Tek-Tek MAN 2 Wonosobo

Oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo - 10 April 2018

Tombo ati iku limo perkarane

Kaping pisan moco Quran lan maknane

Kaping pindo sholat wengi lakonono

Kaping telu wong kang sholeh kumpulono

Kaping papat kudu weteng ingkang luwe

Kaping limo zikir wengi lingkang suwe

Salah sawijine sopo bisa ngelakoni

Mugi-mugi gusti Allah nyembadani"

                                   (...nukilan syair)

(Obat hati ada lima perkaranya.Pertama baca Quran dengan maknanya.Kedua, shalat malam dirikanlah.Ketiga,berkumpullah dengnan orang sholeh. Keempat perbanyaklah berpuasa.Kelima, dzikir malam perbanyaklah. Salah satunya siapa bisa menjalani. Semoga Allah mencukupi )

Puji-pujian Tombo Ati (Obat Hati) ini tak asing bagi kita. Terutama masyarakat Muslim di Jawa. Ini seringkali dilantunkan di masjid atau mushala menjelang shalat jamaah. Menurut cerita, ini berasal dari warisan salah satu wali songo penyebar agama islam yang termashur khususnya di jawa, Sunan Bonang-lah yang memperkenalkan pertama kali puji-pujian tersebut. Lalu, tradisi ini pun turun temurun diperkenalkan para wali dan ulama sesudahnya. Hingga saat ini diamalkan oleh generasi Islam di se-entero Nusantara.

Begitu lagu demi lagu dilantunkan oleh bocah-bocah lincah dan lugu peserta didik MAN 2 Wonosobo, dengan tarian gemulai dan senyum wajah manis diiringi musik tek-tek dan untaian komentar melalui pengeras suara oleh pembimbing dengan retorika yang dibungkus selera humanis sekaligus humoris tercurah nampak melekat membaur di wajah-wajah yang menyaksikanya dalam acara pentas seni hajatan warga masyarakat sekitar madrasah yang mengundang musik tek-tek dari MAN 2 Wonosobo. Ekstra kurikuler seni musik tradisional tek-tek adalah salah satu dari beberapa ekstra yang diselenggarakan di madrasah ini. Terbukti kegiatan tersebut telah banyak diminati dan dinikmati oleh masyarakat sekitar dengan mengundang kelompok musik tersebut untuk pentas di berbagai acara-acara seremonial maupun sekedar acara hajatan maupun peringatan yang bersifat religious. “Murah meriah dan cukup menghibur sekaligus melestarikan budaya bangsa”, begitu menurut Subandi, S.Pd, guru seni sekaligus pembina Ekstra kurikuler musik bambu ini.

Memang tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa di kampung-kampung, musik tek-tek, si kentong bambu wulung itu mampu bangkit dan mencuat bak meteor di tengah-tengah menjamurnya kelompok band remaja, boy band dan girl band, maupun jenis musik trend masa kini lainnya. “ Kami juga berkolaborasi dengan guru seni lain, dalam hal ini Bapak Dwi Haryadi, S.Pd. selaku pembina  Ekstrakurikuler Band MAN 2 Wonosobo, untuk membuat pentas musik Kontemporer, gabungan dari Musik Bambu dengan musik modern yakni Band. Bahkan tidak hanya itu, kami juga sedang meramu untuk persiapan penyambutan team lomba perpustakaan tingkat propinsi bulan April 2018, kebetulan kan MAN 2 Wonosobo masuk 6 besar lomba perpustakaan tingkat propinsi, nah kami sedang mengkolaborasi musik dimana nanti saya akan pentas wayang kulit sebagai dalangnya, namun iringan musiknya adalah  Kolaborasi musik moderen Band dan musik tradisional bambu”, tukas Subandi saat ditanya oleh salah satu kru wartawan madrasah dari ekstra jurnalistik MAN 2 Wonosobo.

Bagaimana mungkin potongan-potongan bambu wulung yang dibentuk kentongan itu juga mampu menggeser dominasi calung, alat musik bambu yang lahir bertahun-tahun sebelumnya, terlebih lagi musik karawitan, bahkan bisa menembus mewarnai demensi dunia formal pendidikan menjadi pilihan favorit ekstra kurikuler. Tek-tek memang tidak rumit, sederhana, dan eksotis, gampang dijogetin. Betapa tidak, kesederhanaan tidak saja tampak pada cara memainkannya tetapi juga dari bahan dan medianya. Teknik, gaya, serta penggunaan komposisi musikalnya, para penabuh tidak perlu pusing-pusing beradaptasi dengan alat yang mereka mainkan seperti halnya dengan alat-alat musik modern saat ini dimana demensinya harus lebih rumit menyesuaikan diri dengan tonalitas/melodi, pola ritme maupun harmoni, terlalu jauh untuk diterapkan dalam ranah seni musik tek-tek budaya lokal tersebut. Bagi mereka, murah meriah, bisa menghibur, kebersamaan dalam kesederhanaan adalah harmoni yang sesungguhnya. Pertanyaannya sekarang adalah, musik kentongn yang dulu sering lebih akrab di telinga kita sebagai musik yang di bunyikan di gardu pos siskampling dan musik keliling untuk membangunkan orang-orang tidur siap bersantap saur di bulan ramadlan di kampung-kampung, mampukah si bambu wulung ini menembus strata elite?

Sekilas merunut arti seni dari segi kebahasaan dari beberapa pendapat, istilah seni pada mulanya berasal dari kata Ars (latin) atau Art (Inggris) yang artinya kemahiran, seni. Ada juga yang menyatakan kata seni berasal dari bahasa Belanda yang artinya genius atau jenius. Sementara kata seni dalam bahasa Indonesia berasal dari kata sansekerta yang berarti pemujaan, dan dalam bahasa tradisional Jawa, seni artinya Rawit (pekerjaan yang rumit- rumit/kecil).

Menurut Elkins (1995) sebagaimana diulas dalam Britanica Online, seni didefinisikan sebagai: “The use of skill and imagination in the creation of aesthetic objects, environments, or experiences that can be shared with others.” By this definition of the word, artistic works have existed for almost as long as humankind: from early pre-historic art to contemporary art; however, some theories restrict the concept to modern Western societies. (penggunaan keterampilan dan imajinasi dalam penciptaan obyek estetis, lingkungan, atau pengalaman yang bisa dibagi dengan orang lain.” Dengan definisi kata, karya-karya artistik telah ada selama hampir sepanjang manusia: dari seni pra-sejarah awal sampai seni kontemporer, namun beberapa teori membatasi konsep masyarakat Barat modern”.

Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis. Beberapa pendapat tentang pengertian seni:

1. Ensiklopedia Indonesia: Seni adalah penciptaan benda atau segala hal yang karena keindahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar,

2. Aristoteles: seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu,

3. Ki Hajar Dewantara: seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya,

4. Akhdiat K. Mihardja: seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani sipenerimanya.

5. Erich Kahler: seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan symbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa seni pada hakikatnya adalah hasil karya manusia yang bernilaikan estetik yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan sebagai produk dari kreativitas manusia dalam memadukan potensi akal dan perasaan sehingga dapat dipelajari dan dinikmati umat manusia.

Seni musik tek-tek sendiri secara etimologi, kata ‘tek-tek’ terdengar lucu dan unik, ini diambil dari suara kenthongan bambu yang menjadi properti pementasan. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan beduk, seruling, kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Dalam satu grup kenthongan, kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Lagu-lagu yang dibawakan berdasarkan selera kelompoknya, ada sholawatan, campursari, dangdut, bahkan pop lagu barat. Bambu sendiri dalam tradisi masyarakat jawa tengah bukan hanya bermakna sebatas tanaman, namun juga memiliki banyak fungsi dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam ranah kerajinan, tunas mudanya bisa untuk makanan, maupun untuk kepentingan lainnya. Maksudnya bila bahasa menunjukkan bangsa, maka musik tek-tek diharapkan menjadi  media bahasa yang bisa menyatukan dunia. Dalam artian, meskipun para turis asing barangkali tidak mengerti bahasa dalam alunan musik tek-tek, setidaknya mereka bisa terhibur dan menikmati nada dan iramanya, dan itulah wahana komunikasi dan apresiasi yang bisa digarap dan dimunculkan dari hasil karya anak bangsa. Barangkali seperti itulah ujud dari pegejawantahan teori musiknya Alferd Aurbach, Universitas California, bahwa  musik adalah bahasa dunia, ia tidak perlu diterjemahkan, dalam musik berbicara dari jiwa kepada jiwa. Terlebih bisa menjadi media dakwah islamiyah yang cukup menghibur penikmatnya dengan lantunan irama lagu-lagu yang religious hingga menyentuh hati pendengar yang haus dengan siraman rohani; lebih ramah, sederhana, insyaAllah barokah, sekaligus melepaskan rasa penat sejenak dari kesibukan hingar bingar urusan duniawi yang bila menuruti nafsu tidak akan pernah kelar.

Jaman dahulu pada tingkat peradaban manusia yang masih rendah, secara umum seni musik juga telah diinterpretasikan sedemikian rupa pada hampir seluruh aspek kehidupan, masyarakat primitif memanfaatkan musik tidak hanya sekedar sarana entertainment semata, tetapi mereka mempergunakannya juga sebagai alat untuk upacara ritual keagamaan, adat kebiasaan bahkan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sosial. Apresiasi mereka menunjukkan bahwa musik mempunyai peran yang cukup urgen dalam kehidupan manusia.

Salah satu peran yang cukup menonjol pada seni musik yaitu sebagai mediator. Pada konteks ini seni musik merupakan bahasa universal yang diekspresikan lewat simbol-simbol estetis. Sebagai alat komunikasi musik menjelma secara substansial menjadi sarana aktivitas interaktif antara musisi dan audiencenya (pendengar). Pada tingkat inilah seni musik menunjukkan peran yang cukup luas yang mencakup kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi dan kehidupan religius (keagamaan).

Terbukti hingga kini bahwa seni takkan pernah mati ditelan waktu, akan tetapi dengan manfaat musik dapat menghidupkan waktu-waktu yang mati. Tak bisa dipungkiri Allah SWT. telah menciptakan manusia dengan berbagai macam bentuk, karakter, warna kulit, ras,  kemampuan, dan kecenderungan. Termasuk kecenderungan dalam hal seni musik. Bagi penggemar dunia seni musik, musik adalah sarana yang mampu memberikan banyak manfaat. Kelembutan dan kemerduan sebuah musik mampu membuat seseorang menemukan imajinasi yang hilang, mengusir kepenatan pikiran, menerbangkan impian dan angan-angan serta mampu mengembalikan memori indahnya suatu kenangan. Bahkan musik ternyata mampu menggugah selera dan melunakkan hati yang keras menuju petunjuk suci Sang Kholiq pemilik alam semesta ini, Subhanallah.

Sejarah telah mencatat, bahwa Wali songo termasuk pelopor masuk dan tersebarnya agama Islam di Indonesia. Dengan sikap yang ramah dan penuh toleran, mereka mampu dengan mudah mengajak orang-orang yang pada saat itu mayoritas beragama Hindu menerima dan memeluk agama Islam. Dengan wasilah kesenian wayang dan musik gendingan yang diminati mayoritas masyarakat pada saat itu, mereka mampu mengubah substansi dari kebiasan yang jelek menjadi kebiasaan yang lebih bermakna dan membawa kebaikan. Begitu besar jasa Wali songo dan seni musik bagi negeri ini. sehingga sampai saat ini Indonesia dinobatkan menjadi negara terbesar pemeluk agama Islamnya di seluruh dunia ini. Maka tidak salah jika musik tek-tek syair-syair lagunya untuk syiar islamiyah banyak di ambil dari syairnya warisan wali songo.

Dari sisi manfaatnya maka jelas bahwa jika muncul khilafiyah dari perspektif islam tentang musik  haram dan halal, musik tak selamanya bisa dihukumi haram secara mutlak, ataupun halal secara mutlak, disana ada kesamaan hukum dengan buah anggur yang bisa menjadi halal ketika di makan dengan semestinya, begitupun bisa menjadi haram manakala anggur dibuat khamr (minuman keras) maka haram meminumnya. Begitupula sebuah musik, bilamana digunakan untuk hal yang positif maka halal hukumnya, terlebih untuk kepentingan syiar, tapi bila musik digunakan sebagai penunjang untuk hal-hal negatif maka haram hukumnya.

Tak pelak lagi, dalam peradaban islam Timur Tengah, musik juga dimanfaatkan dan dikembangkan selama berabad-abad kebanyakan dilakukan oleh para sufi seperti, Jalal Al-Din Rumi, Amir Khusraw, dan perintis serta pakar musik modern Al Farabi. Dalam hal ini musik menjadi sangat erat dengan sastra, khususnya puisi, menciptakan bahasa pengantar yang sempurna untuk mengagungkan Allah dan pertolongan yang ampuh untuk senantiasa mengingat-Nya. Maka musik tek-tek bisa menjadi salah satu media dakwah, kenapa tidak?. Wallahu a’lam bisyowab.(Penulis ; Yun’am Arif)


Dibaca sebanyak 314 kali

Web Profile Kemenag Jateng


Web Profile Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah merupakan web mandiri yang dibangun dalam rangka untuk memperkenalkan Kementerian Agama Provinsi Jateng terkait dengan tugas, fungsi dan layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Adanya web profile ini diharapkan dapat memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Berita Terbaru


Komitmen Kemenag Kota Semarang Terhadap Pendidikan Kespro di Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Semarang - 21 Maret 2019

50 Perwakilan Majelis Taklim Ikuti Talk Show P4GN Kantor Kementerian Agama Kota Tegal - 21 Maret 2019

Rakor Persiapan Pelunasan BPIH di Kemenag Kudus Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus - 21 Maret 2019

Kontak Info


Alamat Kantor Jl. Sisingamangaraja No.5 Semarang
Telp: 024-8412547 Fax: 024-8315418

Media Sosial