Opini

Halaman Opini

Filosofi Batik dan Keberagaman Budaya Indonesia

Oleh Administrator - 03 Oktober 2019

Peringatan Hari Batik nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2019 ini begitu menggema. Di berbagai medsos, banyak kita jumpai informasi, meme, dan status orang-orang sedang euforia mengenakan gaun batik. Pemerintah pun kian mendukung penuh perkembangan batik ini dengan menggencarkan pemakaian batik kepada seluruh ASN Lembaga pemerintah. Bahkan, sebagian instansi mewajibkan penggunaan batik masing-masing daerah pada hari tertentu. Tak hanya pemerintah, lembaga swasta pun kian banyak yang beranimo memakai batik sebagai seragam kantor.

Peringatan Hari Batik ini tak lepas dari sejarah perkembangan batik di Indonesia. Kata batik berasal dari dua kata yang digabung, yaitu kata ‘amba’ yang berarti kain yang lebar dan kata ‘tik’ berasal dari kata titik. Sehingga, batik adalah titik-titik yang ditorehkan pada media kain sehingga menghasilkan pola-pola yang cantik.
Dilansir dari berbagai sumber, pembuatan batik Indonesia ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Batik adalah kain yang dilukis dengan cairan lilin malam menggunakan alat bernama canting dan menghasilkan pola-pola tertentu pada kain. Dahulu, batik hanya digunakan oleh para bangsawan kalangan Kerajaan. Namun pada perkembangannya, hingga saat ini, batik sudah banyak digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari pejabat hingga rakyat jelata.

Menjadi sebuah kekaguman tersendiri bagi kita, bahwa begitu banyak corak atau motif batik yang ada di nusantara. Hal ini sebenarnya menjadi presentasi atas keberagaman budaya di Indonesia. Kita patut bangga, karena negara ini tidak hanya memiliki kekayaan alam, namun juga kekayaan budaya. Dalam sebuah helai kain batik, terdapat hasil cantingan masyarakat Indonesia yang menghasilkan pola yang indah. Pola ini disebut dengan corak atau motif. Setiap daerah mempunyai ciri khas motif tersendiri. Namun karena masyarakat antar daerah saling belajar, maka tak jarang kita temukan kemiripan motif batik antara daerah satu dengan lainnya. Dari Sabang sampai Merauke, jumlahnya mungkin bisa mencapai ratusan. Beberapa motif yang terkenal di antaranya motif sekar jagad, motif mega mendung, parang rusak, pring sedapur, motif tambal, Latohan, motif naga, motif burung, hingga motif yang terkenal, yaitu Tiga Negeri dan Empat Negeri.

Dalam sebuah helai kain batik, motif tersebut dihiasi dengan warna-warna alam yang cantik. Ada warna alam yang lembut, bahkan dalam perkembangannya, warnanya cenderung kontras dan cerah. Pola batik ini terkesan berantakan. Namun jika sudah diwarnai, apalagi sudah dijahit dalam bentuk busana, kain batik akan tampak elegan dipandang.

Dalam sebuah helai kain batik, ada filosofi yang menjadi pelajaran bagi kita :

Pertama, ketekunan dan keuletan perajin ketika menyanting. Cantingan tak selesai dalam waktu sehari, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan untuk motif yang rumit seperti tiga negeri. Kendati rumit, para perajin sangat menikmati proses ini. Hasil dari mencanting hingga proses mewarnai ini, terciptalah sehelai kain batik yang indah nan menawan. Sikap para perajin batik ini bisa kita aplikasikan dalam menjalankan tugas kita sebagai ASN. Bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai abdi masyarakat, keuletan dan ketelatenan perlu kita terapkan, sehingga menghasilkan sebuah pekerjaan yang memuaskan.

Kedua, motif batik yang sangat banyak menunjukkan keberagaman budaya di Indonesia. Keberagaman motif batik tersebut bukannya menjadikan kualitas batik semakin rendah, namun justru semakin tinggi. Dalam sebuah helai kain batik, bahkan kerap ada perpaduan corak. Misalkan motif sekar jagad dipadukan dengan motif parang rusak atau pring sedapur. Perpaduan motif ini menjadikan batik semakin indah. Filosofi dari paduan batik ini adalah, perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat kita, seharusnya menjadikan suasana semakin harmonis. Perbedaan bukanlah senjata untuk bersengketa dan memisahkan diri dengan suku atau golongan lainnya. Atau pun berselisih dan berkonflik atas nama agama. Perbedaan yang ada di nusantara itu seharusnya menjadikan kita saling menghargai dan menghormati. Untuk itulah, moderasi beragama menjadi salah satu tiga mantra Kementerian Agama. Karena dengan mengedepakan sikap yang moderat, perbedaan itu akan tampak indah. Karena perbedaan itu mempersatukan, bukan memecah belah.

Ketiga, dalam sehelai kain batik, tercermin karakter yang menunjukkan kepribadian bangsa. Kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia yang memiliki budaya luhur dan sikap ketimuran yang santun. Batik tidak dimiliki oleh negara lain, selain di Indonesia. Batik bahkan sudah menjadi idola penduduk negara di belahan dunia. Selaiknya, masyarakat Indonesia juga menjadi cermin kepribadian bagi bangsa lain.

--Shofatus Shodiqoh – Pengelola Humas Kemenag Rembang.


Dibaca sebanyak 207 kali

Web Profile Kemenag Jateng


Web Profile Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah merupakan web mandiri yang dibangun dalam rangka untuk memperkenalkan Kementerian Agama Provinsi Jateng terkait dengan tugas, fungsi dan layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Adanya web profile ini diharapkan dapat memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Berita Terbaru


Kali ke-3 Kafilah Kab. Pati Pertahankan Juara Umum MTQ Pelajar Tingkat Provinsi Jawa Tengah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati - 20 November 2019

KKM 1 MI Kota Semarang Raih Juara I Tenis Meja HAB Kemenag Tingkat Kota Semarang Kantor Kementerian Agama Kota Semarang - 20 November 2019

KKRA Dituntut Bisa Membawa RA Lebih Baik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Demak - 20 November 2019

Informasi Penting


Penetapan Peserta Terbaik MTQ Pelajar XXXIV 2019 Administrator - 20 November 2019

Rekrutmen Penyuluh Agama Buddha Non PNS 2020 Administrator - 20 November 2019

Materi Rakor PBJ Hotel Grasia Semarang Administrator - 18 November 2019

Kontak Info


Alamat Kantor Jl. Sisingamangaraja No.5 Semarang
Telp: 024-8412547 Fax: 024-8315418

Media Sosial