Semarang (Humas) – Penguatan toleransi dan kerukunan antarumat beragama menjadi pesan utama dalam kegiatan bertajuk Beyond Religion yang digelar di Universitas Negeri Semarang (UNNES), Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan para tokoh dan penyuluh lintas agama untuk berbagi perspektif mengenai pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Kegiatan ini menghadirkan lima narasumber lintas agama, yakni Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Jateng Zaimatul Chasanah dari unsur Islam, Ignatius Wawan Indaryanto selaku Penyelenggara (Gara) Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, Widya Candra selaku Penyuluh Agama Hindu Semarang, Osa Anita selaku Penyuluh Agama Buddha Semarang, serta Obaja dari Perkantas (Persekutuan Kristen Antar Universitas).
Dalam pemaparannya, Zaimatul Chasanah menyoroti pentingnya memahami regulasi yang mengatur kehidupan beragama, termasuk ketentuan Pasal 300–303 KUHP terkait tindak pidana yang mengganggu pelaksanaan ibadah dan kehidupan beragama, serta regulasi mengenai pendirian rumah ibadah.
Ia menegaskan bahwa toleransi tidak cukup hanya dimaknai sebagai sikap saling menghormati, tetapi juga bagaimana setiap orang dapat merasa aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas serta keyakinannya tanpa gangguan maupun diskriminasi.
Lebih lanjut, Zaimatul mengajak generasi muda dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi konflik keagamaan melalui deteksi dini. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi EWS Si-Rukun sebagai sarana pemantauan dan pelaporan dini potensi gangguan kerukunan umat beragama.
Ia juga menekankan pentingnya peran tokoh agama dalam membimbing generasi muda. Menurutnya, para tokoh agama perlu hadir sebagai figur yang memberikan tuntunan dan keteladanan di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh lingkungan.
“Anak muda saat ini menghadapi banyak tontonan, tetapi jangan sampai kehilangan tuntunan. Karena itu, tokoh agama harus hadir memberikan arah, nilai, dan keteladanan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam pemaparannya.
Melalui kegiatan Beyond Religion, dialog lintas agama diharapkan tidak berhenti pada pengenalan perbedaan keyakinan, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi untuk membangun saling pengertian, memperkuat persaudaraan, dan merawat kerukunan di kalangan generasi muda.