Klaten (Humas) — Sebagai upaya nyata memperkuat kesadaran ekologis di lingkungan sekolah dan pesantren, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan PT Unilever Indonesia dan PERSADA menyelenggarakan Pelatihan dan Pendampingan Pengelolaan Lingkungan dan Sampah Bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di Klaten, Kamis (24/9/2026).
Sebagai moderator, Ketua Tim PAI SMA/SMALB, Karina menyampaikan jika pelatihan ini bisa mendatangkan manfaat untuk keberlanjutan, karena pelatihan ini mengusung pendekatan ekoteologi, sebuah integrasi antara pemahaman nilai keagamaan dan aksi nyata pelestarian lingkungan.
”Program ini untuk menjaga alam dan melestarikan bumi, bukan sekedar tanggung jawab sosial melainkan manifestasi keimanan dan bentuk ibadah kita kepada sang pencipta,” ujar Karina.
Pelatihan dihadiri oleh Kasi PAIS dari wilayah Solo Raya, seperti Kab. Sukoharjo, Kab. Wonogiri, Kab. Klaten, Kab. Surakarta dan Kab. Boyolali . Kegiatan ini juga dihadiri jajaran GPAI dan beberapa yayasan dan pesantren.

Widiandayani selaku Direktur PERSADA Sleman Yogyakarta, selaku instruktur dalam kegiatan ini, memaparkan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Ia menekankan bahaya penumpukan sampah anorganik seperti plastik yang butuh waktu hingga ratusan tahun untuk terurai di tanah.
“Pemilahan sampah organik dan anorganik secara konsisten sejak dari sekolah atau pesantren tidak hanya menekan beban lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara sistematis melalui Bank Sampah,” jelas Widiandayani saat memaparkan materi.
Selain pengelolaan sampah kering, para peserta pelatihan juga dibekali panduan teknis pembuatan komposter sederhana untuk sampah organik, pembuatan lubang resapan biopori untuk konservasi air dan pencegahan banjir, serta penerapan gerakan Peer-to-Peer Education guna membiasakan pola hidup bersih dan sehat kepada para siswa.
Materi kegiatan juga difokuskan pada penguatan pemahaman pengelolaan lingkungan dari hulu ke hilir, meliputi pemilahan sampah, konservasi air, penerapan kebersihan dan higienitas fasilitas sekolah, hingga pengurangan sampah makanan (food waste).
Rencananya ada 10 Sekolah yang akan dilakukan pendampingan. Sehingga melalui pembentukan Bank Sampah berbasis komunitas sekolah dan pesantren ini mampu mencetak #GenerasiPilahPlastik yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Ke depan, implementasi program ini diproyeksikan menjadi bagian penting dari terwujudnya konsep Green Pesantren dan Sekolah Sehat yang berkelanjutan di Jawa Tengah.










