Semarang (Humas) — Lantunan sholawat menggema di tengah suasana penuh syukur dalam acara Jateng Bersholawat, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini digelar sebagai bentuk tasyakuran atas terselenggaranya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Jawa Tengah.
Mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”, Jateng Bersholawat menghadirkan tausiyah dari KH. Ahmad Anwar Zahid, lantunan sholawat bersama Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf, serta penampilan hadroh Majelis Az-Zahir Pekalongan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa pelaksanaan MTQ Nasional XXXI menjadi bagian penting dari sejarah Jawa Tengah. Menurutnya, keberhasilan perhelatan tersebut tidak hanya tercermin dari pelaksanaan kompetisi, tetapi juga dari kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskannya.
“Kita semua menjadi saksi sejarah dalam perhelatan MTQ,” ujar Ahmad Luthfi.
Sementara itu, Ketua Umum LPTQ Jawa Tengah sekaligus Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam rangkaian MTQ Nasional XXXI. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para siswa dan ASN yang bersama-sama melantunkan Mars MTQ sebagai bagian dari semarak pembukaan MTQ Nasional.
Kepada para kafilah Jawa Tengah, Taj Yasin menyampaikan penghargaan atas perjuangan mereka membawa nama Jawa Tengah hingga meraih capaian membanggakan.
“Para kafilah Jateng, terima kasih telah membawa nama Jateng harum,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kota Semarang yang dinilai telah menunjukkan keramahan dan kebersamaan selama penyelenggaraan MTQ. Tak lupa, penghargaan diberikan kepada para tenaga kebersihan yang turut menjaga kebersihan dan kenyamanan kota selama perhelatan berlangsung.
Menurut Taj Yasin, MTQ Nasional XXXI memberikan dampak yang luas, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam memperkuat toleransi serta menggerakkan sektor sosial dan ekonomi. Perhelatan nasional tersebut disebut turut memberikan dampak ekonomi dengan perputaran uang yang mencapai sekitar Rp1,3 triliun.
“Doakan para kafilah kami ke depan semakin baik, semakin solid. Selamat bagi Jawa Tengah, selamat bagi Kota Semarang. Semoga yang Anda dedikasikan dicatat sebagai amal ibadah,” tuturnya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti turut menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepada Kota Semarang sebagai salah satu pusat penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.
Ia mengaku bangga atas capaian Jawa Tengah yang berhasil meningkatkan posisi dari peringkat ke-16 pada MTQ Nasional sebelumnya menjadi peringkat kedua. Dari capaian tersebut, tujuh peserta di antaranya berasal dari Kota Semarang.
“MTQ meneguhkan bahwa Kota Semarang adalah kota yang damai. Momentum ini menjadi bukti Kota Semarang siap menyambut kemajuan dan warga bangga terhadap kotanya sendiri,” kata Agustina.
Menurutnya, meski rangkaian MTQ Nasional XXXI telah berakhir, nilai-nilai yang dibawanya diharapkan tetap hidup di tengah masyarakat, terutama keteguhan, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan kebersamaan.
“MTQ telah selesai, namun nilainya akan tetap bertahan. Keteguhan, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan kebersamaan semoga terus terjalin. Semoga kita diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, turut dilakukan penyerahan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah. Mewakili Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, Kabid Penaiszawa Imam Buchori menerima secara simbolis bantuan sebesar Rp282 juta sebagai tali asih bagi peserta MTQ Nasional XXXI 2026 Kafilah Jawa Tengah.
Baznas Jawa Tengah juga menyerahkan bantuan berupa uang sebesar Rp13 juta dan 130 paket sembako kepada 130 petugas yang turut mendukung penyelenggaraan MTQ, di antaranya petugas kebersihan, petugas urinoir, dan pemadam kebakaran.
Jateng Bersholawat menjadi penutup yang sarat makna. Setelah rangkaian panjang perjuangan, kompetisi, dan kebersamaan dalam MTQ Nasional XXXI, masyarakat Jawa Tengah kembali berkumpul dalam satu suasana: bersyukur, bersholawat, dan merawat semangat kebersamaan.
Cahaya Al-Qur’an yang ditebarkan melalui MTQ diharapkan tidak berhenti ketika panggung perlombaan berakhir, tetapi terus hidup dalam harmoni masyarakat Jawa Tengah menuju Indonesia Emas yang berkeadaban.









