Cilacap โ Derasnya arus informasi akibat makin canggihnya teknologi telah merubah karakter hidup masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh lambatnya penyesuaian masyarakat itu sendiri terhadap efek teknologi. Pola maupun gaya hidup masyarakat di era millenial II memerlukan teknik maupun pendekatan kepenyuluhan yang lebih efektif. Karenanya, penyuluh agama Islam diminta untuk terus meningkatkan kualitas kerjanya.
Hal tersebut dikemukakan Kakankemenag Kabupaten Cilacap melalui Kasi Bimas Islam, Aziz Muslim, Kamis (12/7) pada acara Pembinaan dan silaturahim penyuluh agama Islam di Gedung BKM Cilacap.
Menurutnya, terdapat tiga aspek yang melatarbelakanginya. Pertama, di era millenial umat Islam dihadapkan dengan pemikiran liberal/sekuler. Kedua, tantangan bagi daโi untuk mendakwahkan Islam wasathiyah / moderat dan ketiga, Indonesia menjadi pasar berbagai macam ideologi yang datang dari luar. Di era millenial diperlukan figur daโi progresif yang tidak hanya memiliki kualifikasi qolbu, tetapi juga Ilmu, Sosial, Ekonomi dan Fisik.
Berdasarkan pejelasannya, seorang daโi tidak cukup hanya memiliki kualitas qolbu atau kebaikan hati saja. Keilmuan yang memadai merupakan alat utama yang wajib dikuasai daโi. Tanpa keilmuan maka seseorang tidak akan dapat menjadi daโi yang baik. Untuk dapat berinteraksi dengan baik, maka daโi harus mampu bersosialisasi dengan baik pula. Mengingat tugas daโi adalah di lapangan, faktor fisik merupakan modal penting untuk melakukan mobilisasi. Sedangkan faktor ekonomi merupakan pelengkap dari keempat komponen tersebut.
โTerdapat tiga tantangan utama dakwah di era millenial, yakni perubahan perilaku pada masyarakat, transmisi ajaran Islam dari daโi ke madโu (objek dakwah) dan pada saat yang sama masyarakat yang menjadi objek dakwah pasti berinteraksi dengan pihak lain yang belum tentu membawa pesan baik,โkatanya.
Ditegaskan pula bahwa, perubahan perilaku akibat pengaruh teknologi dan globalisasi harus disikapi secara arif dan bijaksana. Tantangan tersebut merupakan faktor utama yang harus dinetralisir melalui kearifan ilmu dan sikap. Setelah perubahan perilaku membaik, maka baru kemudian dapat terjadi transfer ajaran agama. Pengertian yang telah tertanam akan mendapat pengaruh dari interaksi dengan orang lain. Jika madโu sudah tidak terpengaruh oleh masyarakat lain yang berbeda, maka tanda-tanda keberhasilan dakwah mulai nampak.
Sementara itu, disebutkan pula beberapa komunitas di Kabupaten Cilacap yang selama ini masih belum tergarap. Yakni, para penjaja seks komersial (psk), waria, LGBT, anak jalanan atau punk dan penyandang HIV/Aids(On/bd)
