Semarang (Humas) – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menggelar Rapat Koordinasi dan Finalisasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) bertajuk Pak Yai Bu Nyai Mantu 500 Santri, Rabu (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan program pernikahan massal bagi santri dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Rapat koordinasi berlangsung di Auditorium Majeng Kanwil Kemenag Jateng dengan menghadirkan perwakilan Bimas Islam Kementerian Agama RI, Ketua RMINU Jawa Tengah, Kabid Urusan Agama Islam (Urais) Provinsi Jawa Tengah, pengurus pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, kepala Kantor Kemenag dan kepala KUA se-Semarang Raya, serta sejumlah perwakilan instansi pemerintah tingkat Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah.
Mewakili Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Kabag Tata Usaha Hidayat Maskur menyampaikan bahwa program Pak Yai Bu Nyai Mantu 500 Santri tidak boleh dipandang sebatas seremoni pernikahan massal. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai tata cara pernikahan yang benar, baik dari sisi adat maupun ketentuan syariah.
“Bimas Islam Mantu ini bukan sekadar ritual pernikahan biasa yang bisa kita saksikan setiap tahunnya. Namun, harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua, mulai dari proses akad hingga ajaran-ajaran yang menyertainya harus benar,” pesannya.
Menurut Hidayat, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang utuh tentang proses pernikahan, termasuk bagaimana adat dan syariah diterapkan secara tepat. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan kebahagiaan kepada pasangan yang menikah, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Kami berharap masyarakat bisa mengetahui bagaimana proses pernikahan yang benar. Terutama terkait adat dan syariah yang diterapkan. Harus ada edukasi kepada masyarakat tentang pernikahan yang benar dan utuh, sehingga banyak ilmu yang bisa diberikan,” lanjutnya.
Ia juga berharap sinergi antara Kanwil Kemenag Jateng dan RMI dapat mewujudkan program tersebut dengan baik. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum istimewa karena digagas sebagai program yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia, sekaligus meninggalkan kenangan berharga bagi para santri dan seluruh pihak yang terlibat.
“Semoga kita bisa mewujudkan apa yang telah digagas bersama RMI dengan Bimas Islam ini. Karena ini baru pertama di Indonesia, mudah-mudahan menjadi tinggalan atau kenangan tersendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua RMINU Jawa Tengah KH Ahmad Fadlullah Turmudzi menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan bagian dari program Sambang Pesantren yang rutin dilaksanakan setiap bulan di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Ia mengaku tidak menyangka antusiasme pendaftar untuk mengikuti program pernikahan santri tersebut begitu besar. Pada awalnya, RMINU Jateng hanya merencanakan kuota sebanyak 50 hingga 100 pasangan. Namun, jumlah tersebut dinilai masih terlalu sedikit sehingga program kemudian dikembangkan dengan target 500 santri.
“Awalnya kami hanya membuka kuota 50 dan 100. Pak Dirjen Bimas Islam menyampaikan bahwa jumlah tersebut terlalu sedikit,” ujarnya.
KH Ahmad Fadlullah menambahkan, gagasan awal kegiatan ini adalah memfasilitasi para guru di lingkungan pesantren dan keluarga besar pesantren yang telah siap menikah. Melalui program tersebut, para peserta diharapkan memperoleh kemudahan sekaligus mendapatkan pendampingan dalam mempersiapkan pernikahan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama kabupaten/kota yang turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Dukungan lintas instansi dan lembaga dinilai penting untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar.
Program Pak Yai Bu Nyai Mantu 500 Santri dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang tidak hanya meriah, tetapi juga memberikan manfaat nyata melalui edukasi pernikahan sesuai ketentuan agama.
Melalui kolaborasi Kemenag Jateng dan RMINU Jateng, program ini diharapkan menjadi wujud kepedulian terhadap keluarga besar pesantren sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya membangun rumah tangga berdasarkan nilai-nilai agama, tanggung jawab, dan kesiapan menjalani kehidupan berkeluarga. (Hilman Najib)


