Jam Layanan: 08:00 - 16:00 WIB | kanwiljateng@kemenag.go.id

Mimbar Agama Islam: Kunci Dekat dengan Allah

Studio Audio Berita Kanwil
Dengarkan siaran warta berita resmi Kanwil Kemenag Jateng
Suara Studio Alami (Citra)
Bahasa:
Tempo:
Alat Aksesibilitas:
Mimbar Agama Islam: Kunci Dekat dengan Allah

Setiap orang yang hidup di dunia akan mengalami namanya lika-liku kehidupan. Bentuknya bisa beragam. Ada yang ringan, sedang dan ada pula yang berat. Tiga bentuk ini akan selalu dijumpai oleh setiap orang di dalam proses perjalanan hidup mereka masing-masing.

Perjalanan hidup setiap orang tidak ada yang sama dan selalu berjalan berbeda-beda. Ada yang dimulai dari proses paling ringan hingga ke proses paling berat, ada yang dari proses paling berat hinga proses paling ringan, dan ada yang proses hidupnya biasa-biasa saja, tidak pernah merasakan proses kehidupan yang berat maupun proses yang ringan.

Kehidupan memang selalu membawa misteri bagi setiap orang, tidak ada yang bisa menebak hari ini, hari esok, maupun hari yang akan datang. Orang-orang hanya bisa menebak, sedangkan Allah yang bisa memastikan takdir baik-buruk setiap makhluknya di dunia. Maka dari itu Allah memerintahkan setiap hambanya untuk tidak sombong dan terus belajar. Agar kelak apa yang telah manusia pelajari dari setiap ilmu pengetahuan yang ada di dunia, dapat semakin mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Seseorang yang sudah dekat dengan Allah, tentu tidak ada lagi rasa khawatir dan takut dengan yang namanya kehidupan. Ia akan meyakini bahwa kehidupan di dunia memanglah fana, yang kekal hanyalah kehidupan di akhirat. Contoh beberapa orang yang tidak takut dan khawatir lagi terhadap urusan dunia di antaranya adalah para Nabi, para Sahabat yang dekat dengan Nabi, Tabi’in, Tabi’i Tabi’in, Syuhada’, Waliyullah, Shalihin Shalihah, Zahidin, para Ulama dan yang terakhir adalah para Kiai.

Untuk dapat membawa orang agar bisa dekat dengan Allah, ada dua alternatif yang bisa dilakukan. Pertama, menjadi salah satu di antara mereka. Kedua, belajar ilmu dari mereka. Maksud dari mereka adalah yang sekarang ini masih hidup dan masih bisa ditemukan keberadaannya. Nabi sudah banyak yang wafat dan tidak ada lagi Nabi yang diangkat setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam wafat. Sebab Ia adalah Nabi terakhir sekaligus Nabi Akhir Zaman.

Keberadaan Sahabat juga demikian, sudah banyak yang wafat dan tidak mungkin ditemukan lagi karena syarat utama menjadi Sahabat adalah harus Islam, Iman, dekat dengan Nabi dan pernah belajar secara langsung dengan Nabi Muhammad. Para Tabi’in dan Tabi’i Tabi’in, juga sudah banyak yang wafat, karena syarat Tabi’in harus dekat dengan para Sahabat Nabi dan minimal sudah pernah

belajar dengan mereka. Begitupun Tabi’i Tabi’in juga harus dekat dengan para Tabi’in dan minimal sudah pernah belajar dengan mereka juga.

Syuhada’ sudah pasti wafatnya. Karena sebutan Syuhada’ adalah dikhususkan bagi orang-orang yang gugur pada saat berperang memperjuangkan agama Islam di jalan Allah dengan ikhlas, tanpa adanya niat yang bersifat duniawi. Ada tiga jenis Syuhada’ menurut Imam Nawawi di dalam Kitab Syarah Sahih Muslim, yaitu: Syahid dunia dan akhirat, Syahid akhirat, dan yang terakhir adalah Syahid dunia. Adapun Syuhada’ yang dimaksud di tulisan ini adalah masuk dalam kategori Syahid dunia dan akhirat.

Waliyyullah, Shalihin Shalihah, Zahidin, dan Ulama adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mereka semua sampai sekarang masih hidup dan masih bisa berkembang biak lagi seiring bertambahnya zaman. Akan tetapi keberadaan mereka untuk dicari terbilang sangat susah. Kebanyakan dari mereka enggan menampakkan diri secara terbuka di publik. Mereka lebih tertutup dan tidak ingin sedikitpun orang mengetahuinya.

Jika sudah begitu, jawaban satu-satunya yang dimaksud kata “mereka” di atas adalah para Kiai. Benar. Para Kiai adalah satu-satunya orang yang masih hidup dan bisa dicari keberadaannya di mana. Kiai juga bisa termasuk Waliyullah, bisa termasuk Shalihin, bisa termasuk Zahidin, dan bisa juga termasuk kategori Ulama.

Dengan begitu, siapa pun orangnya di era sekarang, apabila mempunyai keinginan kuat untuk bisa dekat dengan Allah, kunci utamanya adalah menjadi Kiai atau belajar ilmu kepada Kiai. Tetapi untuk syarat menjadi Kiai tidaklah mudah. Ia harus sudah belajar berbagai ilmu dari Kiai juga. Belajarnya pun tidak diperbolehkan hanya sebentar. Perlu melewati proses belajar yang panjang dan tirakat yang tidak sebentar. Ia harus bisa membaca kitab dari para Ulama terdahulu termasuk memaknai tulisan gundul, hafal nadzaman kitab dan berbagai dalil seperti Al-Qur’an, Hadits, termasuk hukum Fiqih dan lain sebagainya, syukur-syukur Ia hafal Al-Qur’an 30 juz sekaligus paham tafsirannya.

Oleh karenanya, apabila tidak mampu menjadi Kiai, cukup kita belajar ilmu kepada Kiai sudah cukup menggugurkan syarat agar kita bisa lebih dekat dengan Allah. Wallahu a’lam. (Hilman Najib)

 

 

Bagikan Berita Ini ke Media Sosial
Tautan artikel berhasil disalin!