600 Guru Ikuti Seminar Literasi Digital

Rembang – 600 guru madrasah di Kabupaten Rembang mengikuti seminar literasi digital secara virtual pada Kamis (8/7/2021). Acara ini menghadirkan narasumber nasional, yaitu K.H. Yahya Cholil Tsaquf, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Mustain Ahmad, Dosen Komunikasi UI Devie Rahmawati, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Waryani Fajar Riyanto dan Aktor film Qausar Harta Yudana.
Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Agama Kabupaten Rembang. Acara ini dimoderatori oleh harry Perdana.
Gus Yahya mengatakan, pada era digitalisasi sekarang ini, guru harus mempunyai fungsi yang lebih dari sekadar pengajar. Hal ini karena, segala pengetahuan sekarang sudah tersedia di internet. Sehingga yang dibutuhkan peserta didik adalah ruh spiritual atau hubungan batin antara guru dan murid yang kebanyakan hanya bisa diperoleh dengan tatap muka.
“Agama itu soal ketuhanan, ruh. Dalam pendidikan agama ada yang namanya sanad keilmuan yang haru bersambung hingga ke Rasulullah Saw,” tandas Gus Yahya.
Lalu bagaimana mendapatkan ruh dalam keadaan keterbatasan selama pandemi ini? Gus Yahya berpendapat doa adalah kekuatan utama saat ini, untuk membangun hubungan ruhaniyah antara guru atau orang tua dengan anak.
Gus Yahya membagikan doa kepada peserta. “ Ini saya mendapatkan ijazah dari KH Jauhari, Pamotan, Rembang. Setiap malam kita berdoa Yaa Allah, Yaa Nur, Yaa Haqqu, Yaa Mubiin. Dibaca sebanyak 313 kali,” sebut Gus Yahya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Mustain Ahmad mengatakan, untuk menebar hal-hal positif di dunia digital, terlebih dahulu kita harus memperlajari UU ITE. “Kita harus memahami UU ITE, sama halnya kita tahun tentang rambu-rambu lalu linta. Karena teknologi itu sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Kita harus tahu etika dan etiket dalam bermedia sosial,” tegas Mustain
Devie Rahmawati menambahkan, diperlukan jihad dalam bermedia sosial, di tengah maraknya konten-konten negatif yang memberikan dampak buruk kepada masyarakat. Jihad tersebut adalah selalu menebar hal-hal positif di media sosial.
“Bagaimana untuk menggempur konten-konten negatif tersebut? Kita perbanyak konten-konten positif di media sosial. Niscaya akan bisa menutup konten negatif itu,” kata Devie. — iq