Agama seharusnya menjadi RUH dalam negara

Karanganyar – Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Hal ini tercermin dari banyaknya tempat ibadah yang terus menerus dibangun, simbol-simbol keagamaan yang mudah dijumpai dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang senantiasa disesaki jama’ahnya. Namun, semaraknya berbagai kegiatan dan banyaknya simbol tersebut sepertinya belum mewarnai sikap dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Berbarengan dengan bulan September yang telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar mengadakan seminar sehari di Hotel Tamansari dengan tema “Membangun Hidup Menggereja dan Memasyarakat Dalam Terang Sabda Tuhan”. Acara yang digelar pada hari Ahad, 21 September 2014 ini dipenuhi oleh pemuka serta guru Agama katolik se Kabupaten Karanganyar.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, Drs. H. Musta’in Ahmad, SH.MH untuk memberikan sambutan. Memulai sambutannya, beliau mengajak peserta yang tidak lain adalah tokoh Agama Katolik untuk bersama-sama menyeru pada kebaikan. “Kondisi saat ini mengharuskan kita untuk lebih sering mengajak pada kebaikan, sehari sekali, sejam sekali, semenit sekali, bahkan setiap saat, karena disisi lain secara langsung atau tidak langsung banyak sesuatu hal yang mengajak pada keburukan”, terangnya.

Selanjutnya beliau menggambarkan kondisi keagamaan yang terjadi di masyarakat belakangan ini. Menurutnya, sebagian masyarakat saat ini menganggap Agama itu sesuatu hal yang penting ning ora perlu, perlu ning ora penting. Penting ketika sedang terjadi perhelatan pemilu, dimana banyak calon kepala daerah dan anggota dewan yang berbondong-bondong mencari seorang tokoh agama didaerahnya untuk meminta doa atau bahkan hanya meminta dukungan. Perlu ketika acara-acara ceremonial, dimana di awal atau di akhir acara disisipkan sepenggal doa.

“Seharusnya yang namanya Agama itu menjadi ruh untuk bangsa ini, tidak sebatas pada ceremonial semata, karena tidak dapat dipungkiri bahwa berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini berkat perjuangan tokoh-tokoh agama yang membangkitkan semangat/ruh agama rakyat bangsa ini. Oleh karenanya kewajiban kita saat ini adalah mengantisipasi berkembangnya pemikiran-pemikiran seperti itu.”, tegasnya. (Hadi)