AKMI Hadir Untuk Jadikan Madrasah Pilihan Utama di Dunia Pendidikan

Semarang (Humas) – Sebagai upaya meningkatkan kapasitas guru madrasah khususnya di bidang literasi sains, numerasi, membaca dan sosial budaya, Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Prov. Jateng dibawah arahan Kementerian Agama RI menggelar kegiatan uji coba dan penerapan modul dalam bimtek. Harapannya dengan diadakannya kegiatan tersebut dapat memperbaiki layanan pendidikan yang dibutuhkan siswa sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Bimtek tersebut diselenggarakan di 10 titik di Jawa Tengah dan acara ini di selenggarakan selama 4 hari yakni (18-21/11/2021).

Acara tersebut melibatkan lebih dari 1000 orang yang terdiri 900 guru Madrasah Ibtidaiyah, 40 orang instruktur, dan 150 panitia pendamping. Walapun melibatkan lebih dari 1000 orang, namun kegiatan tersebut tetap memperhatikan protokol Kesehatan dengan sangat ketat. Salah satu langkahnya adalah panitia membagi acara ke 10 titik di Jawa Tengah dan membaginya lagi menjadi 30 kelas.

Kegiatan AKMI ( Asesmen Kompotensi Madrasah Indonesia) ini merupakan sebuah pengembangan dari kegiatan sebelumnya yakni kegiatan AKSI (Asesmen Kompotensi Siswa Indonesia – Madrasah). Untuk tahun 2021 Asesmen Nasional ini dirancang untuk memotret mutu input, proses, dan hasil belajar yang mencerminkan kinerja sekolah, sebagai umpan balik berkala yang objektif dan komprehensif bagi manajemen sekolah/madrasah, serta lembaga yang menaunginya.

Untuk mememuhi semua target kegiatan tersebut AKMI sendiri mengundang instruktur dengan berbagai latar belakang. Salah seorang instruktur pada kegiatan tersbut didatangkan langsung dari Gorontalo, beliau adalah Dr. Luqmanul Hakiem Ajuna, SE.I.,M.M. Luqman sendiri adalah seorang dosen yang mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Dalam sesinya Luqman menjelaskan bahwa AKMI terdiri dari 4 Instrumen (Literasi Membaca, Numerasi, Sains, dan Sosial Budaya) dengan tujuan mengukur kemampuan literasi (membaca, sains, sosbud) dan numerasi yang mencerminkan kebiasaan belajar dan cara berpikir serta kecakapan hidup sesuai pengalaman yang diperoleh, dan juga mengukur kebiasaan yang mencerminkan perilaku dan karakter murid.

“Informasi hasil belajar kognitif dan sosial emosional diperlukan untuk merumuskan kondisi madrasah terkait kemungkinan  murid di kelas tertentu memiliki hasil belajar yang baik atau buruk. Tindak Lanjut inilah yang akan diberikan kepada madrasah sesuai analisis hasil asesmen dari murid di kelas,” jelas Luqman.

Dia berpendapat dalam sebuah lingkungan pendidikan diperlukannya sebuah keunikan dari lingkungan Pendidikan yang lainnya. Beliau merasa bahwa  Madrasah sendiri memiliki keunikan dalam Literasi Sosial Budaya yang melibatkan penguasaan di bidang sosial-budaya dan kemampuan berfikir tingkat tinggi serta kebiasaan yang mencerminkan prilaku dan karakter peserta didik.

“Madrasah memiliki sebuah lingkungan pendidikan yang berebeda, karena didalam madrasah prilaku dan karakter peserta didik merupakan sebuah hal yang sangat penting dan menjadi prioritas,” ujar Luqman.

Keunikan dalam mendidik prilaku dan karakter peserta didiklah yang nantinya akan membuat madrasah menjadi pilihan utama dalam dunia Pendidikan.

(bqq)