Argosantri Darul Ishlah

Purwokerto Santri harus menjadi referensi masalah keagamaan di lingkungannya, tapi juga harus mempunya kemampuan berupa ketrampilan hidup (lifeskill) untuk mencari ma’isyah setelah tamat dari pondok pesantren, sehingga tidak menjadi beban masyarakat ,demikian kata K. Anas Makruf selaku pengasuh Pondok Pesantren Darul Islah Sokawera Kec. Cilongok disela-sela kegiatan panen tomat dan sayuran di lahan pertanian santri pondok Darul Islah.

Program agrosantri dengan melatih santri mengembangkan budidaya tanaman sayur diawali dengan adanya bantuan Program Indonesia Pintar Tahun 2016 dan 2017 dari Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. “ Kami mendidik santri untuk mengembangkan ilmu pertanian dengan bekerjasama dengan Dinas Pertanian selaku konsultan Pertanian dan adanya pendampingan dari Kementerian Agama Kabupaten Banyumas”, katanya.

Tanaman pertanian yang dikembangkan oleh santri Pondok Darul Islah diantaranya kacang panjang, terong, sawi bunga kol, cabe, paprika dan tanaman sayur lainnya. Hampir semua tanaman di budidayakan dengan media polybag dengan maksud untuk mensiasati lahan terbatas, mudah perawatannya dan terkesan artistik.

“Alhamduliiah hasil jerih payah para santri sudah dapat diambil manfaatnya, minimal dapat meringankan biaya operasional dapur untuk menghidupi puluhan santri yang mondok di pesantren Darul Islah .” demikian kata Kiai dengan dua putera ini.

Di samping dilatih bercocok tanam santri juga dilatih untuk beternak sapi, kelinci dan budidaya ikan. Hasil dari kegiatan peternakan/perikanan juga dikembangkan usaha krupuk sidat, biogas dan program produksi pupuk organik.

Selanjutnya ketika ditanya tentang prospek dan pengembangan usaha santri Kyai alumnus pondok Banyuwangi ini menyampaikan: “Sebetulnya kami banyak menerima order krupuk sidat, tapi terkendala dengan alat/media pembuat krupuk dan modal yang terbatas sehingga kami hanya melayani pesanan sesuai dengan kemampuan kami saja” (gie/bd)