Audiensi Tim Perancang Pemanfaatan Candi Prambanan dan Candi Borobudur ke Gubernur Jawa Tengah

Semarang (Buddha) – Tim Perancang Pemanfaatan Candi Prambanan dan Candi Borobudur beraudiensi ke Gubernur Jawa Tengah, Kamis (16/9) yang beralamat di Jl. Pahlawan No. 9 Kota Semarang. Kehadiran Tim diterima langsung oleh Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah di R.R Gedung A lantai 2 Komplek Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Tim yang berjumlah 12 orang ini di koordinatori oleh Agus Wijaya selaku Ketua Umum Tim Kerja Candi Prambanan, didampingi Sayit selaku Koordinator Pendidikan Tinggi pada Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI bersama staf mewakili Tim Kerja Candi Borobudur, I Dewa Made Artayasa selaku Pembimas Hindu sekaligus Plt. Pembimas Buddha Kanwil Kemenag prov. Jawa Tengah, Anak Agung Darmaja selaku Ketua PHDI Prov. Jawa Tengah beserta staf, Nyoman Surahata selaku Ketua Sabha Walaka PHDI Prov. Jawa Tengah, serta pengurus Sabha Walaka PHDI Kab. Klaten.

Kegiatan audiensi diawali dengan pemaparan oleh Agus Wijaya tentang rencana usulan pemanfaatan candi Prambanan bagi masyarakat Hindu dan Sayit yang memaparkan rencana pemanfaatan candi Borobudur bagi masyarakat Buddha. Di kedua pemaparannya tim sepakat mengusulkan dan berharap agar dikedua candi ini diberikan status tempat suci dan tempat ibadah.

Selesai mendengarkan pemaparan dari kedua perwakilan ini, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah menyampaikan apresiasi dan menyambut baik keinginan pemanfaatan kedua candi ini untuk kegiatan positif yang salah satunya adalah akses pemanfaatan bagi kegiatan keagamaan masing-masing baik dari Hindu dan Buddha.

“Manfaat yang diterima oleh Pemda Prov. Jawa Tengah adalah rasa senang dan bahagia karena mampu melayani masyarakat untuk beribadah dengan bebas sesuai agama dan keyakinan masing-masing,” ucap Ganjar.

Lebih lanjut dia juga berharap bahwa selain umat Hindu dan Buddha yang tidak berhubungan secara agama dengan kedua bangunan candi ini akan menghormati kegiatan ibadah pihak lain.

“Bagi masyarakat yang tidak beragama Hindu dan Buddha akan menghormati dan kemudian mau menghormati, ini adalah praktik Bhineka Tunggal IKa di negara kita,” tegasnya.

Ganjar Pranowo juga meminta kepada Dinas dan pihak pemerintah terkait di Provinsi Jawa Tengah melakukan mitigasi tentang kondisi masyarakat dilapangan untuk menghasilkan keputusan yang tepat, agar tidak muncul berbagai persepsi yang berseberangan dengan maksud yang dikehendaki dari masyarakat Hindu dan Buddha.

“Perlu sosialisasi dan ngobrol dengan berbagai elemen yang ada, agar muncul rasa nyaman dan tidak terjadi ketersinggungan,” lanjutnya.

Lebih jauh Gubernur Jawa Tengah ini berharap bahwa untuk waktu selanjutnya ditindak lanjuti dengan audiensi kepada Kementerian yang lain dan pihak-pihak terkait yang bersinggungan dengan keberadaan kedua candi ini, agar muncul kesepakatan dan pemahaman yang sama.

Diakhir arahannya Ganjar Pranowo berharap baik Candi Prambanan maupun Candi Borobudur bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, namun lebih berperan sebagai media belajar untuk saling memahami, saling menjaga dan saling menghormati dari sebuah kelengkapan dari situs tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. (sis/Sua)