Banyak Napi Teroris, Penyuluh Perlu Antisipasi Gerakan Radikalisme

Cilacap – Banyaknya narapidana teroris yang ada di Lapas Nusakambangan mengundang berbagai anggota kelompok radikal datang ke Kabupaten Cilacap.  Sebagai wujud dukungan dan komitmen, anggota mereka banyak yang menjenguk. Waktu yang dibutuhkan tentunya bisa berhari-hari di Cilacap.

Terlebih, dalam waktu dekat ada kemungkinan tambahan warga binaan (wabi) teroris dari Jakarta. Untuk saat ini terdapat setidaknya 56 wabi tindakan terorisme. Itu saja sudah membuat Cilacap banyak didatangi, baik oleh keluarga maupun anggota-anggota mereka. Apalagi jika tambahan dari Jakarta sudah datang, maka diperlukan energi ekstra untuk mengantisipasinya.

Pernyataan tersebut disampaikan Kasat Intelkam Polres Cilacap, AKP Tri Hartanto pada acara Rapat Koordinasi penyuluh agama Islam, Kamis (27/4) di Gedung BKM Darussalam Cilacap.

Pada kesempatan tersebut, dia juga memberikan datail peta terkait gerakan radikalisme, terutama yang mengatasnamakan Islam. Jika dilihat dalam peta, maka Kabupaten Cilacap termasuk wilayah yang rawan. Hal ini dibuktikan berbagai organisasi masa Islam yang ada di Cilacap.

“Kami membutuhkan peran penyuluh agama untuk mengantisipasi gerakan radikalisme yang dibingkai dengan kegiatan keagamaan. Mereka sangat cerdas dan militan dalam mencapai tujuannya. Kami yakin dengan menguasai bahasa agama, penyuluh akan mampu mendeteksi setiap kegiatan keagamaan yang memuat unsur radikal. Sehingga wilayah Cilacap yang selama ini tenang bisa tetap terpelihara,”ungkapnya.

Kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap melalui Kasi Bimas Islam, Moeh Tongat menanggapi serius langkah Polres Cilacap. Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Polres Cilacap yang telah ikut memberikan kontribusi kepada Kemenag melalui para penyuluhnya. Sehingga ke depan peran strategis penyuluh agama bisa betul-betul memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan kamtibmas dan kerukunan umat beragama.(On/bd)