Banyak Penyataan di Medsos yang Perparah Intoleransi

Salatiga – Saat ini orang terlalu merumitkan aturan-aturan agama, sehingga menggerus budaya toleransi yang sudah ada di tengah masyarakat sejak dulu. Sesuatu hal yang dulu tidak menjadi masalah dalam rangka menjunjung toleransi antar umat beragama, saat ini justru menjadi masalah. Saling memberikan ucapan hari raya antar agama yang dulu diajarkan, kini justru menjadi masalah.

Hal itu diungkapkan Ketua Generasi Muda Forum Kerukunan Umat beragama (Gema-FKUB) Jateng, Imam Fadilah, saat diskusi FKUB Jateng yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemprov Jateng di RM. Elangsari Salatiga, Kamis (05/04).

Bahkan persoalan-persoalan yang merusak toleransi antar umat beragama sengaja digunakan untuk menyerang generasi muda, sehingga dikwatirkan menimbulkan perpecahan bangsa.

“Persoalan-persoalan seperti ini yang menjadi tantangan kedepan yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Inilah pentingnya Gema-FKUB merajut kebhinnekaan di antara generasi muda bangsa,” kata Imam.

Diskusi yang dibuka oleh Kepala Bidang Ketahanan Bangsa, Badan Kesbangpol Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Atiek Surniati itu menghadirkan pembicara Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Fahrudin, Ketua FKUB Salatiga KH Noor Rofiq dan Taslim Sahlan (FKUB Jateng). Diskusi itu bertema “Merajut Kemajemukan dan Kerukunan untuk keutuhan NKRI”.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh agama dari berbagai agama di kota Salatiga, Pengurus FKUB kota Salatiga, mahasiswa dan aktivis pemuda.

Diskusi di media sosial yang tidak tepat juga bisa mengancam toleransi antar umat beragama, Gema-FKUB yang berdiri sejak 2011 diharapkan menjadi benteng atas persoalan yang mengancam toleransi antar agama itu.

Fahrudin mengatakan, Allah menciptakan manusia bermacam-macam dan rupa, kunci dari merawat perbedaan adalah dengan membiarkan yang beda tetap beda.

“Untuk yang sudah sama jangan dipaksakan beda, termasuk membiarkan agama yang berbeda-beda karena sudah ada sejak dulu. Pendiri bangsa ini sadar bahwa bangsa ini berbeda-beda,” kata Fahrudin.

Ditambahkan Fahrudin, Salatiga sebagai kota tertoleran di Indonesia, mampu mempertahankan situasi kondusif. Sekalipun media sosial kerap membahas dan mengupas habis persoalan agama, bahkan kadang dengan bahasa yang tidak sedap dan berujung pada intoleransi, namun kita yakin persoalan itu tidak terbawa ke dunia nyata, karena orang Jawa itu umumnya berani di belakang, tetapi di depan tetap sopan.

“Saya lebih memilih tidak menanggapi status di medsos yang berkaitan intoleransi, kalau bicara tentang agama lebih baik bertemu dan bukan di media sosial,” ujarnya. (KK-MNc/gt)