BDK Semarang Apresiasi Kedisiplinan Peserta DDTK Revolusi Mental

Karanganyar – Diklat di Tempat Kerja (DDTK) Revolusi Mental bagi pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar mendapat apresiasi dari Panitia Balai Diklat Keagamaan Semarang. Hal ini diungkapkan oleh Izzi Hamzah, panitia kegiatan saat upacara penutupan DDTK Revolusi Mental di Aula Kantor, (10/03).

“Dari seluruh DDTK yang kami selenggarakan, pasti ada saja yang izin, tidak hadir karena suatu alasan, sakit, dan lain sebagainya. Tapi hal ini tidak berlaku di Kabupaten Karanganyar, pesertanya 40 komplit mulai dari pembukaan sampai penutupan. Tidak ada yang izin keluar, sakit dan lain sebagainya. Ini luar biasa,” kata Izzi Hamzah.

Lebih lanjut panitia mengatakan bahwa selain jumlah kehadiran, peserta dari Kemenag Karanganyar juga diapresiasi terkait kedisiplinan saat dimulainya jam belajar. Menurutnya baik peserta maupun widyaiswara telah melaksanakan jam pelajaran dengan tepat waktu sehingga pembelajaran lebih efektif.

Di akhir sambutannya, Izzi Hamzah yang mewakili Kepala BDK Semarang mengharapkan peserta yang kembali ke lokasi kerjanya masing-masing datang dengan gaya baru, semangat baru dan mindset baru.

DDTK Revolusi Mental diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari pegawai Kantor Kemenag, Madrasah Negeri dan Kantor Urusan Agama. Peserta dibimbing oleh 2 Widyaiswara BDK Semarang, Yeri Adriyanto dan Siti Sangadah dalam pembelajaran selama 6 hari mulai tanggal 5-10 Maret 2018.

Sementara itu, Kepala Kankemenag Kabupaten Karanganyar, Musta’in Ahmad dalam upacara penutupan mengingatkan agar peserta tidak lagi terpengaruh dengan gaya lama, namun dapat menggunakan gaya baru yang didapat setelah mengikuti diklat Revolusi Mental.

“Peserta dikat datang ke kantor dengan gaya baru, jangan terpengaruh dengan gaya yang lama, nanti kita rugi,” tegas Musta’in.

Namun demikian, Kepala Kemenag juga menghimbau peserta untuk tidak over acting setelah mengikuti diklat. Menurutnya agar ilmu yang diterima dapat diaplikasikan dengan baik di lingkungannya masing-masing, peserta harus melakukan komunikasi yang efektif terhadap pimpinan dan rekan kerjanya.

“Tetap sadari anda punya pimpinan dan rekan kerja di lingkungannya masing-masing. Sehingga dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat harus melalui model komunikasi yang baik. Yang penting adalah anda efektif, dan untuk mencapai komunikasi yang baik anda harus klik dulu dengan lainnya”, tutupnya. (ida-hd/Wul)