Belajar Fikih di Alam Terbuka

Purbalingga – Termotivasi untuk melakukan peningkatan pembelajaran Mata Pelajaran Fiqih Bab Haji melalui kegiatan berbasis aktivitas, Kelompok Kerja Guru Kelas MI Kecamatan Bukateja menyelenggarakan kegiatan Manasik Haji Bagi Siswa V dan VI di Lapangan Sepak Bola Desa Kedungjati Kecamatan Bukateja, Kamis (29/11). Kegiatan yang diikuti 923 siswa tersebut dibuka Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sudiono.

Ketua Panitia Penyelenggara, M. Mizani Syuja menjelaskan, tujuan kegiatan yang digelar sehari tersebut selain untuk meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran Fikih, juga sebagai ajang syiar madrasah kepada masyarakat luas.

“Ini salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi siswa sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Juga untuk menambah wawasan bagi guru-guru agar tidak terpancang pada pembelajaran di dalam ruang kelas saja,” ungkap Mizan menjelaskan.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk memperbaiki dan mengatasi masalah pembelajaran yang dihadapi. Sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan harapan akan diperoleh hasil prestasi yang optimal demi kemajuan madrasah.

“Dalam proses kegiatan ini peserta dibagi dalam 8 kloter. Setiap kloter terdiri dari 2 – 3 Madrasah dengan pendamping sejumlah 32 orang,” tambahnya.

Inovasi Pembelajaran

Kasi Pendidikan Madrasah, Sudiono dalam sambutan pembukaannya berharap kegiatan tersebut hendaknya tidak hanya dijadikan sebagai kegiatan rutin tahunan saja namun dapat ditemukan inovasi-inovasi baru agar lebih menarik, berbobot dan berkesan bagi siswa.

“Kegiatan manasik haji itu sangat penting. Maka akan lebih baik jika dilengkapi dengan petugas-petugas bertanda khusus. Sehingga siswa akan mengetahui bahwa dalam kegiatan haji itu ada banyak pihak yang terkait. Ada petugas-petugas haji yang disebut TPHD, TPHI, TPIHD dan TPIHI. Proses ibadah haji itu juga melalui proses pendaftaran, di dalam ibadah haji juga ada mabit atau menginap. Maka kenapa tidak kegiatan manasik haji bagi siswa itu dilaksanakan lebih dari sehari dengan menginap,” ungkapnya memberi ide.

Maka dengan bentuk seperti perkemahan khusus untuk manasik haji, siswa akan mengetahui bagaimana caranya mendaftar haji, bagaimana proses menginap atau Mabit di Mina, ibadah-ibadah apa saja yang dilaksanakan dan sebagainya. Dengan demikian siswa akan lebih berkesan sehingga pembelajaran yang diharapkan akan lebih tercapai. Selain itu karena merupakan kegiatan syiar maka kegiatan sosialisasi dimaksud sebaiknya diposisikan di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat sehingga lebih banyak masyarakat yang ikut menyaksikan dan mendukung serta mengetahui eksistensi dan kemajuan madrasah. (sar/gt)