Bentengi Santri dari Narkoba dan Radikalisme

Purbalingga – Ratusan santri dari berbagai Pondok Pesantren bersama pelajar madrasah utusan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga memadati Komplek Pondok Pesantren Nurul Quran dalam kegiatan Sarasehan Pengasuh dan Santri Pondok Pesantren se-eks Pembantu Gubernur Wilayah Banyumas.

Kegiatan sarasehan yang dilaksanakan Rabu (26/07) ini berlangsung dari pukul 11.00 di Pondok Pesantren Nurul Quran Bukateja, Purbalingga. Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ini diikuti oleh peserta dari Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan Cilacap. Seluruh biaya penyelenggaraan kegiatan ini bersumber dari Dana APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2017.

Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai Keynote Speaker dengan didampingi Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi. Bertindak sebagai Narasumber dari BNN Provinsi Jawa Tengah, Susanto dan AKP Purwoko S, dari Kasat Bimas Polres Purbalingga. Turut hadir pula unsur Kantor Kementerian Agama, para pengasuh pondok pesantren dan Kepala Madrasah dan guru yang mendapat tugas pendampingan.

Dalam sambutannya Gubernur Ganjar Pranowo mengajak para santri dan peserta sarasehan untuk menghindari jauh-jauh narkoba dalam kehidupannya.
“Pada hari mental kita hancur semua, kita akan dikuasai oleh asing. Maka kedaulatan politik kita akan hancur karena mental kita dihancurkan dengan narkoba. Narkoba itu masuk ke seluruh dunia dan Indonesia sebagai pasar yang potensial. Semua ingin menyerbu ke sini,” tegas Ganjar.

“Di dalam penjara saja mereka masih bisa jualan. Bagaimana cara nawarinya? SDMnya yang nggak kuat. Maka kita semua yang kumpul hari ini.harus ikut kampanye. Nyentuh saja, jangan. Lebih ngeri lagi dhuwit banyak bisa digunakan untuk hal-hal yang tidak baik –seperti terorisme. Maka kalau sudah mondok, Islam itu rahmatan lil’alamin harus ditunjukkan,” tambahnya.

Ganjar juga menjelaskan betapa ngerinya paham-paham radikal yang ada di luar negeri jika masuk ke Indonesia. Maka kerjasama antara ulama dan umaro harus lebih dikuatkan. Digambarkan bagaimana Bung Karno pendiri bangsa ini berkoordinasi dengan para kyai sepuh ketika mendirikan negara ini termasuk saat berusaha menyatukan kembali komponen bangsa yang terpecah belah dengan meminta saran Kyai Wahab Hasbullah sehingga terbentuknya tradisi halal bihalal di Indonesia yang menjadi contoh bagi umat lain di dunia.

Sementara itu dari BNN dalam paparan dan diskusinya Susanto, dari BNN menjelaskan tentang perkembangan narkoba di Indonesia termasuk menjawab pertanyaan salah satu peserta dari MTs Darul Abror Kedungjati tentang rokok yang bisa membuat penggunanya ketagihan.

“Dari intelijen memang sudah ada info terkait Narkoterorisme dan Narkojihad. Bersatunya jaringan narkotika dan jaringan teroris bisa terbentuk dari napi-napi yang bertemu atau bergabung di penjara atau Lembaga Pemasyarakatan. Pada tahap tertentu kita melaksanakan program pemberantasan melalui operasi intelijen. Sedangkan rokok bukan golongan bahan narkotika dan psikotropika, tetapi masuk dalam golongan bahan adiktif. Tingkat kecanduannya tidak setinggi pada narkotika dan bahan-bahan psikotropika. Aturan tentang peredaran rokok hanya pada Undang-undang Menteri Perdagangan dan bahayanya pada peraturan Menteri Kesehatan,” jelas Susanto.

Sedangkan AKP Purwoko memaparkan beberapa ciri-ciri gerakan radikalisme. Di antaranya penolakan terhadap lagu kebangsaan dan penghormatan kepada bendera merah putih. Biasanya kegiatannya bersifat tertutup, adanya ikatan emosional yang tinggi, pakaian khas, adanya baiat, tidak mau mendengarkan nasihat kecuali dari kelompoknya, adanya penebusan dosa, menganggap kelompok lain kafir dan merupakan musuh.

Dalam kegiatan tersebut Gubernur Ganjar Pranowo juga menyerahkan bantuan dana hibah dari Baznas Propinsi Jawa Tengah secara simbolis kepada Ponpes Nurul Quran Bukateja dan Yayasan Mambaul Ulum Tunjungmuli Karangmoncol masing-masing sebesar Rp 75.000.000,00. Sedangkan bantuan dari Pemprov Jawa Tengah Bidang Pendidikan Keagamaan untuk madrasah diberikan kepada MI Ma’arif NU Al Muttaqin Desa Ponjen Karanganyar Purbalingga sebesar Rp 50.000.000,00 , MTs Muhammadiyah Desa Sirau Kemranjen Banyumas dan MTs Al Ma’soem Desa Kunci Sidareja Cilacap masing-masing sebesar Rp 60.000.000,00. (sar/gt)