Berdakwah di Gunung Kemukus Sebuah Tantangan Berat

Sragen-“Gunung Kemukus” adalah sebuah kawasan wisata di salah satu desa di Sragen, tepatnya berada di Dukuh Kedunguter Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang. Kalau menyebut Gunung Kemukus, pikiran yang terlintas di benak hampir semua orang adalah sebuah kawasan lokalisasi, atau kalau dulu pernah heboh setelah menjadi laporan utama  Daily Mail  Australia,  ‘Welcome to Sex Mountain’.

Objek wisata  Gunung Kemukus ini sebenarnya adalah obyek wisata religious/ziarah makam Pangeran Samudro yang entah kenapa berubah menjadi tempat mencari pesugihan dengan aroma seks bebas. Pangeran ini dipercaya sebagai putra dari Raja Majapahit yang kemudian menikahi ibu tirinya. Kendati demikian, makam ini sering menjadi lokasi ziarah yang tidak hanya oleh warga setempat tapi juga masyarakat dari berbagai daerah. 

Melihat kenyataan bahwa telah terjadi banyak kemudlaratan atas kenyataan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sragen telah menutup kawasan wisata tersebut dari praktek yang menyimpang sejak tahun 2014.

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen sebagai bagian pemerintah ikut berupaya melakukan pembinaan kepada warga di Gunung Kemukus dengan sentuhan spiritual. Sebagai tindaklanjut Bakti Sosial yang dilaksanakan Kankemenag Sragen di kawasan wisata itu pada tahun 2014, Pokjaluh Kankemenag Sragen menginisiasi berdirinya majlis taklim di masjid setempat. Majlis taklim yang diadakan dinamakan majlis taklim Al Hidayah sesuai dengan masjid yang ada di kawasan wisata tersebut.

Siang itu, Senin (27/02) ibu-ibu warga Gunung Kemukus tidak beraktivitas seperti biasanya, mereka dengan penuh semangat dan istiqomah mengikuti pengajian di Majlis Taklim Al Hidayah. Sebagai narasumber pada pengajian hari itu Siti Fatimah yang didampingi Dewi Anisah FM, Ali Muchson dan Sadullah.

Menurut Sulastri selaku ketua MT Al Hidayah, ‘Pengajian ini sangat bermanfaat bagi kami untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama. Selain itu, dengan pengajian di sini meningkatkan kemampuan membaca Al Quran jamaah pengajian, yang semula 25% saja yang bisa membaca, saat ini sudah 75% jamaah sudah bisa membaca’, ujarnya.

Ketika dimintai komentar tentang kegiatan pokjaluh di Gunung Kemukus, Kepala Subbag Tata Usaha Kankemenag Sragen mengatakan, ‘Sungguh sangat bangga terhadap kegiatan Pokjaluh, tidak banyak atau bahkan tidak ada pendakwah yang mau berdakwah di kawasan yang terkenal dengan kawasan prostitusi tersebut, berdakwah di Gunung Kemukus adalah tantangan berat. Kankemenag Sragen sangat mendukung kegiatan pengajian tersebut dan semoga dapat istiqomah peserta maupun pengisinya’, pungkasnya.(dewi/wul)