Berikan pemahaman kesehatan reproduksi pada siswa madrasah

Wonogiri – Berbicara reproduksi di kalangan anak sekolah selalu dikonotasikan negatif, orang jawa mengatakan “saru atau tabu” namun pemahaman yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sebenarnya sangat penting karena merupakan sikap awal atau pondasi bagaimana siswa mengetahui/memahami kesehatan reproduksi.

Fenomena remaja di era globalisasi sekarang ini kian mengkhawatirkan, terlebih di masa yang kian menglobal, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, akan menyeret remaja pada pergaulan bebas, sex aktif, aborsi, napza dan HIV/AIDS yang akan menghancurkan masa depan remaja dan keluarga.

Padahal salah satu upaya penanggulangan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan permasalahan reproduksi remaja dengan sosialisasi dan orientasi yang tepat dan terarah dari kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan mengenai reproduksi sejak dini sangat penting dilakukan untuk memberi pemahaman serta ketahanan remaja dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkaiatan alat reproduksi atau kesiapan menghadapi masa dewasa.

Demikian di sampaikan Kepala MAN Wonogiri Drs. H. Nuri Hartono dalam acara pembukaan Orientasi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) kerjasama dengan BKBKSPP dan Polres Wonogiri, Senin (27/04/2015) di Aula setempat yang ikuti peserta didik MAN Wonogiri.

Menurut Nuri informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) jelas sangat penting bagi remaja termasuk di dalamnya peserta didik MAN Wonogiri. Informasi itu diberikan biar peserta didik tidak salah tafsir fungsi organ reproduksi dan tahu dampak-dampak dari perilaku seksual. Apabila dapat informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi, lebih bertanggung jawab, menghargai dan memelihara tubuhnya tetap sehat.

“Sebagai seorang remaja harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi sejak dini. Hal ini akan menjadi bekal pengetauan beranjak dewasa, sehingga saya bisa membentengi pribadi dari hal-hal yang memang dilarang oleh agama seperti pergaulan bebas, narkoba, miras dan lain sebagainya”, ungkap Nuri.

Sedangkan dalam paparannya dr. H. Sinung Pribadi, MM dari Dinas BKBKSPP Wonogiri menekankan betapa pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi guna menekan permasalahan seksual yang terjadi pada remaja sekaligus mempersiapkan keluarga yang bahagia kedepannya.

Pada usia 12 – 17 setiap anak mengalami masa pubertas (peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa muda) dan dalam masa ini terjadi perubahan penting yaitu matangnya alat kelamin sekunder dan mulai tertarik kepada lawan jenis, apabila tidak dibekali dengan nilai moral dan agama yang kokoh maka bisa terjerumus para perbuatan asusila.

Bahaya kehamilan di usia muda, kehamilan pada remaja kadang disebabkan karena ketidaktahuan dan tidak sadar atas bahaya kehamilan sehingga jika hal tersebut terjadi akan mengakibatkan perilaku untuk aborsi. Perilaku aborsi menimbulkan resiko kesehatan dan keselamatan fisik serta resiko gangguan psikologis.

“Remaja akan lebih mudah memahami dan mengerti tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya itu bila penjelasan dan pengarahan diberikan dalam suasana yang dipenuhi keterbukaan dan keharmonisan. Hal tersebut tidak hanya harus diberikan oleh tenaga kesehatan, orang tua juga memiliki peran yang sangat besar karena waktu luang yang paling banyak bagi remaja ada dalam keluarga”, pungkasnya. (Mursyid _Heri)