Bersih Lingkungan, Budaya yang Perlu Dijaga

Purbalingga – Kegiatan  World Cleanup Day (WCD) yang digelar 15 September silam di bawah komando Team Leader World Cleanup Day Provinsi Jawa Tengah, Haris Yudha Pratomo telah diikuti berbagai komponen masyarakat khususnya warga madrasah dan pondok pesantren di lingkungan Kantor Kementerian Agama. Kegiatan yang diikuti oleh 150 negara di dunia dengan melibatkan 380 juta penduduk atau 5% populasi di dunia ini bukanlah merupakan sebuah hal yang baru.

Sejak dahulu madrasah dari perkotaan hingga pelosok pegunungan telah memiliki kebiasaan bersih lingkungan. Salah satunya tercermin pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Losari Kecamatan Rembang. Selain menggelar aksi Clean up di madrasah dan area jalan  yang mengarah ke pemukiman warga 15 September lalu, para guru dan siswa telah terbiasa dengan program Jumat Bersih. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Madrasah, Nurwati kepada Humas Kankemenag Purbalingga, Selasa (09/10).

“Dengan adanya aksi bersih-bersih kita menanamkan pola hidup bersih dan sehat, serta  kegotongroyongan kepada anak. Manfaatnya lingkungan menjadi bersih dan memberi contoh kepada masyarakat luas,” kata Nurwati.

Pada kegiatan WCD lalu, ia bersama 130 peserta didik dan 9 orang guru bergerak serentak dengan bermodalkan sapu lidi dan kantong sampah. Hasilnya terkumpul 176 kilogram sampah yang terdiri dari sampah basah 102 kg dan sampah kering 74 kg. Setelah dicatat sampah tersebut kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kalipancur.

Salah satu  peserta kegiatan, Aluna Sekar Kinanti (siswa kelas 3) mengaku senang dengan kegiatan kerja bakti bersih lingkungan seperti yang baru saja diikutinya.

“Saya dan kawan-kawan senang sekali  bersih-bersih lingkungan. Apalagi ada hadiah dari bu guru bagi yang mendapat sampah banyak,” ujarnya riang.  

Tanggapan Positif Warga

Kegiatan bersih lingkungan mendapatkan tanggapan positif dari warga masyarakat sekitar madrasah. Salah satunya Muhammad Aminudin, warga RT 04/RW 01 Desa Losari yang secara kebetulan area samping rumahnya menjadi lokasi kegiatan.   

“Ini merupakan upaya penanaman karakter untuk peduli terhadap lingkungan dan tentunya menjadi bukti bahwa madrasah dan masyarakat merupakan entitas yang tidak terpisahkan,” tutur Aminudin.

Aminudin yang juga ayah dari salah satu peserta kegiatan, Kinanti Aesteta Safriyana adalah seorang Guru Seni Budaya di SMA Negeri 01 Rembang yang juga  penulis buku Merajut Puzzle Yang Terpenggal (Catatan Kecil Seorang Guru ). (sar/gt)