Bimtek Peningkatan Kompetensi Guru PAK, Guru Katolik dan Tenaga Kependidikan Agama Katolik

Temanggung – Kitab Hukum Kanonik dalam Gereja Katolik menjelaskan terkait pendidikan, dimana pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya,  yang memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat, maka anak-anak dan kaum muda hendaknya dibina sedemikian sehingga dapat mengembangkan bakat-bakat fisik, moral, dan intelektual mereka secara harmonis, agar mereka memperoleh rasa tanggungjawab yang lebih sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan benar, dan terbina pula untuk berperan-serta secara aktif dalam kehidupan sosial.

Menyoroti Dunia kependidikan Agama Katholik yang sesuai dengan KHK 795 diatas, Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo dibidang pengelolaan dan pembinaan pendidikan Katolik melalui salah satu kebijakan strategis Bimas Katolik menggelar Bimtek Peningkatan Kompetensi Guru PAK, Guru Katolik dan Tenaga Kependidikan Agama Katolik yang bertujuan untuk mewujudkan tenaga Pendidikan dan Kependidikan Agama Katolik yang berkualitas. 

Salah satu Kegiatan konkrit melalui kegiatan bimbingan teknis peningkatan kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik dan Tenaga Kependidikan Agama Katolik yang diselenggarakan pada Selasa (13/3) di Rumah Retret Bunda Hati Kudus Temanggung. 

Bimtek digelar selama 3 hari berturut-turut dan di kemas dengan menarik, di mana dalam bimtek diadakan semacam seminar atau workshop Kemudian diselingi dengan game sebagai ice breaking agar peserta tidak merasa jenuh. Adapun peserta yang mengikuti Bimtek Tersebut yakni diikuti oleh seluruh  Guru PAK, Guru Katolik dan Tenaga Kependidikan Agama Katolik di Kabupaten Wonosobo. 

Menurut Tabah Sapy Santo Selaku Narasumber Menyebutkan, Kerja Sama antar Guru dan Murid Sangat berperan penting tentang berlangsungnya Proses Pendidikan. 

“Dalam mencapai suatu tujuan tidak cuup guru yang berperan, tapi murid juga harus mau terbukan kepada guru agar mempermudah dalam melakukan pendekatan dan pengenalan karakter. Selain itu spiritualitas guru dan  murid juga harus dibangun dengan cara meneladan diri Yesus, Harus punya prinsip tidak mudah pesimis dan menerapkan prisip hidup Yesus sebagai pola prinsip hidup di sekolah, keluarga dan masyarakat  dan inilah Kristenisasi Spiritual bukan institusional, Guru Katolik adalah promotor Kekristenan,” jelasnya.

Sementara itu, pihaknya juga menambahkan untuk menjadi promotor dimulai kebiasaan didalam keluarga melalui hal kecil saat makan malam bersama, pergi ke Gereja bersama, perjumpaan anggota keluarga yang hangat , bermakna sebagai awal kekuatan untuk bisa melangkah lebih menjangkau kepada sesama , guru, murid dan masyarakat. Selebihnya pihaknya juga menegaskan bahwa menjadi guru merupakan penghargaan dari Allah dan manusia , bukan sekedar profesi. PS-WS/rf