Bina Eks Napiter, Penyuluh Agama Buktikan Mampu Tembus Prestasi Dunia

Semarang – Profesi Penyuluh Agama merupakan profesi pilihan yang penuh tantangan. Penyuluh bak bekerja sebagai petani, menentukan ladang, menggarap, memelihara dan memanen atau menuai hasilnya serta pengakuan kualitas panennya.

Salah satu hasil yang sering diharapkan adalah prestasi yang mendapatkan pengakuan khalayak, contohnya adalah penghargaan LEPRID (Lembaga Prestasi Indonesia – Dunia) yang diperuntukkan kepada sejumlah lembaga yang memang pantas mendapatkannya.

Diantara lembaga yang mendapatkan penghargaan tersebut adalah Kantor Kemenag Kota Semarang yang terbukti berhasil melalui penyuluh agamanya membina para mantan napi terorisme terlibat aktif sebagai narasumber untuk berkampanye anti radikalisme dan anti terorisme ke sejumlah pondok pesantren pada bulan Ramadhan yang lalu.

Para eks napiter tersebut ditampung dalam sebuah yayasan bernama Persadani (Putra Persaudaraan Anak Negeri) yang merupakan binaan salah satu penyuluh agama Islam Fungsional, Syarif Hidayatullah, untuk digerakkan menggaungkan bina damai dan moderasi beragama melalui program Safari Ramadhan : Deradikalisasi Goes To Ponpes.

“Program tersebut sebagai bukti bahwa mereka (eks napiter) mampu berkampanye tentang bahayanya pemahaman yang mampu menyulut tindak pidana terorisme kepada masyarakat”, kata Kombes Irwan Anwar, Kapolrestabes Semarang saat beri sambutan acara penerimaan penghargaan tersebut di Mapolrestabes, Kamis (27/5) ini.

“Kalo yang menyampaikan eks napiter atau pelaku tentunya akan lebih mengarah daripada kita para aparat”, imbuhnya.

Syarif Hidayatullah yang telah terjun membina beberapa kelompok radikal dan eks napiter selama belasan tahun ini sangat bangga dan terharu atas penghargaan yang diterima oleh instansinya.
“Alhamdulillah, jerih payah kami dalam membangun komunikasi, membangun jembatan pemahaman dan akhirnya menunjukkan kepada khalayak hasil penanaman pemahaman yang moderat ini  mendapat pengakuan, yang semua kami persembahkan untuk Kementerian Agama khususnya dan masyarakat Kota Semarang umumnya, bahkan kepada masyarakat Indonesia”, ucapnya.

“Dulu kami yang menanamkan, sekarang ikhwan-ikhwan yang menyampaikan”, imbuh Syarif untuk menggambarkan bahwa bukti hasil penanaman moderasi beragama selama ini berbuah dengan berani tampilnya para binaannya yang bergabung dalam Persadani untuk berkampanye anti radikalisme dan anti terorisme. 

Senada dengan itu, Yusuf yang merupakan Ketua Yayasan Persadani, mengatakan “Saya dulu ditangkap tanggal 9 Juli 2003 karena menyimpan bahan peledak 1 ton di jalan Sri Rejeki Semarang menyampaikan terima kasih kepada pembina kami, Pak Syarif atas bimbingannya selama ini. Dan saat ini, kami siap beri kontribusi ikut membangun masyarakat kota Semarang dengan berkampanye memerangi terorisme”. ucap nya
Syarif berharap ke depan, 32 eks napiter yang bergabung di Persadani tidak lagi kambuh atau revidivisme dan ikut bersama berkampanye membangun moderasi beragama, ciptakan harmoni untuk mengikis intoleransi dan mengikis kebencian antar umat beragama, pungkasnya. (sy/bd)<!–/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_210527_152213_453.sdocx–>