Buka PDWK, Kakankemenag Purbalingga Sampaikan Beberapa Pesan

Purbalingga – Penyuluh adalah ujung tombak Kantor Kementerian Agama yang ditunjuk untuk menyampaikan pesan-pesan informasi dari pemerintah khususnya dari Kementerian Agama. Sehingga seorang Penyuluh Agama dituntut untuk selalu meng-update berbagai hal terkait dengan Kementerian Agama khususnya terkait hal-hal yang menjadi kebijakan dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. Hal tersebut dikemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Karsono saat memberikan sambutan pengarahan sekaligus membuka Pelatihan Di Wilayah Kerja (PDWK) di Aula Uswatun Khasanah Purbalingga, Senin (14/06/2021).

Didampingi Analis Kepegawaian dan para Widya Iswara (WI) Kakankemenag Karsono membuka secara resmi kegiatan yang digelar Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang tersebut. Hadir mengikuti kegiatan pembukaan tersebut 40 Penyuluh Agama Islam peserta Pelatihan Media Penyuluhan Berbasis TIK dan 40 Guru / Kepala Madrasah peserta Pelatihan Manajemen Berbasis Madrasah.

Dengan disatukannya pembukaan 2 jenis pelatihan yang berbeda Kakankemenag Karsono berharap, ada jalinan silaturahmi yang lebih kokoh antara para Guru/Kepala Madrasah dengan para Penyuluh Agama yang sebenarnya merupakan satu tubuh yaitu jajaran Kementerian Agama. Oleh karenanya ia berharap Penyuluh Agama dapat bersinergi lebih kuat dengan guru-guru di madrasah. Selain itu Karsono juga memberikan apresiasi atas penyelenggaraan dan partisipasi para peserta dalam kegiatan tersebut.

“Bapak / Ibu semua adalah duta dari Kankemenag Purbalingga yang berangkat dengan satu tujuan, yaitu menjadi orang yang berkualitas dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Karena dengan pelayanan yang cerdas masyarakat akan semakin puas,” tandasnya.

Menurutnya keberhasilan Kantor Kementerian Agama kabupaten Purbalingga bergantung pada kerja sama berbagai pihak. Oleh karenanya ia meminta seluruh jajarannya memberikan dukungan sepenuhnya.

“Semua punya tanggung jawab yang sama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Guru dan Penyuluh Agama merupakan sebuah profesi yang dianggap sebagai sumber informasi. Sehingga harus bisa menginformasikan dengan jelas berbagai hal tentang Kementerian Agama. Seperti kebijakan pembatalan haji yang viral baru-baru ini,” ungkapnya.

Ia meminta Guru dan Penyuluh Agama dapat turut berpartisipasi aktif memberikan penjelasan kepada masyarakat khususnya para calon jemaah haji terkait KMA Nomor 660 / Tahun 2021 tentang Pembatalan Pemberangkatan Jemaah Haji Tahun 1442 H.

“Pemerintah melalui Menteri Agama membatalkan keberangkatan calon jemaah haji dengan mempertimbangkan kesehatan, keselamatan dan keamanan. Bukan karena lainnya,” tegasnya.

Karsono juga berpesan agar info terakhir dari pemerintah Arab Saudi yang menetapkan penyelenggaraan haji tahun 1442 ini hanya dibuka untuk 60.000 calon jemaah dari warga domestik dan ekspatriat (WNA yang tinggal menetap) sekaligus menjadi bukti melawan kabar / info hoaks agar disebarluaskan ke berbagai lapisan masyarakat.

“Maka sangat tepat sikap yang diambil pemerintah Indonesia dengan membatalkan pemberangkatan calon jemaah haji tahun ini. Ini saatnya para Penyuluh Agama berbicara di masyarakat, Penyuluh adalah garda terdepan, corong Kementerian Agama – jangan diam saja. Jika masyarakat yang berbicara akan muncul berbagai persepsi yang tidak sesuai,” pesannya.

Menurutnya Penyuluh Agama dan Guru adalah sosok yang ditokohkan di masyarakat. Sehingga mereka harus memberikan teladan sekaligus pencerahan atas berbagai permasalahan yang sedang mengemuka.

Analis Kepegawaian Lina Parwati dalam keterangannya menjelaskan, usai pembukaan kegiatan pelatihan berlangsung secara terpisah.

“Pelatihan Manajemen Berbasis Madrasah berlangsung di Aula Uswatun Khasanah sedangkan Pelatihan Media Penyuluhan Berbasis TIK digelar di Aula Lantai 2. Masing-masing berjumlah 40 peserta,” jelasnya.  (sar/bd)