Cegah Dini Potensi Konflik Masyarakat Rembang

Rembang — Masyarakat Rembang diimbau untuk menjaga toleransi dan kerukunan hidup bermasyarakat di antara keberagaman etnis dan agama. Sejauh ini, masyarakat Rembang telah menunjukkan toleransi kehidupan umat beragama maupun bersosial. Kendati ada sedikit permasalahan, namun tidak sampai menimbulkan konflik sosial yang berlebihan.

Demikian mengemuka dalam Focus Discussion Group Dalam Rangka Antisipasi dan Penanganan Konflik Sosial/Intoleransi di Kabupaten Rembang yang diselenggarakan di aula Polres Rembang, Rabu (03/08).

Bertindak sebagai pemateri acara tersebut Wakil Bupati Rembang Bayu Andrianto, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah, Kapolres Rembang Sugiarto, Dandim 0720 Rembang Darmawan Setiadi, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Rembang, M. Zaenal Amroni.

Wabup mengatakan, masyarakat Rembang pada dasarnya mempunyai komitmen untuk menciptakan kehidupan dengan rukun dan damai. Dicontohkannya, kehidupan bermasyarakat yang terjadi salah satu kampung di Kecamatan Lasem.

“Di Lasem ada sebuah kampung Pecinan yang di tengah-tengahnya ada pondok pesantren. Namanya ponpes Kauman, Lasem, di bawah asuhan KH Zaim Ahmad. Ada juga sebuah rumah kyai yang alim yang baru saja dibangun, dan desain rumahnya mirip dengan gaya rumah Pecinan. Fenomena ini menunjukkan bahwa toleransi kabupaten Rembang sebenarnya begitu luar biasa,” ujar Wabup.

Senada dengan wabup, Atho’illah juga turut mendukung terciptanya Rembang yang damai yang bebas dengan konflik. “Namun memang diakui sekecil apa pun potensi-potensi konflik, tetap harus dicegah secara dini. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga toleransi, baik dalam masalah sosial maupun agama,” kata Atho’illah.

Sementara Kapolres menyebutkan, beberapa hal memang menjadi sumber konflik/sengketa. Yaitu masalah ekonomi, budaya, dan sumber daya alam. Sumber daya alam ini biasanya menjadi koflik antara masyarakat dan pengusaha, bahkan tidak jarang pula menyeret-nyeret agama.” Inilah yang perlu kita cegah sejak dini. Sebab, konflik itu ada setiap saat dan bisa meluas,” tandasnya.

Deklarasi damai

Pada acara tersebut, dideklarasikan pernyataan perdamaian masyarakat Rembang. Deklarasi tersebut ditandatangani oleh Wakil Bupati Rembang, Kapolres Rembang, Dandim 0720 Rembang, Kakankemenag Kabupaten Rembang, Ketua FKUB, tokoh agama, dan tokoh LSM.

Wabup berharap, deklarasi damai ini bisa menumbuhkan sikap toleransi yang lebih tinggi. Diharapkan, deklarasi damai ini bisa menjadi komitmen bersama untuk mewujudkan kerukunan masyarakat dan antar umat beragama di Rembang.— (Shofatus Shodiqoh/gt)