Cerpen “Prasangka” Sabet Juara 3

Rembang — MTs Negeri 2 Rembang berhasil menjadi juara 3 dalam Lomba Guru Menulis tingkat Kabupaten Rembang. Lomba ini digelar oleh PGRI Kabupaten Rembang dalam rangka HUT PGRI Ke 76 dan HGN (Hari Guru Nasional) Tahun 2021.

Guru yang berhasil mendapatkan juara tersebut adalah Slamet Winarto. Dia mewakili PGRI Ranting Kecamatan Pamotan. Slamet mendapatkan predikat ini setelah diumumkan pada akhir Oktober 2021.

Lomba bertemakan “Dengan semangat mengabdi pada nusa dan bangsa kita tingkatkan sikap responsif  terhadap strategi pembelajaran dan kualitas pendidikan menuju masa depan yang gemilang”. Lomba ini telah diumumkan berdasarkan Keputusan Pengurus Kabupaten Rembang PGRI Rembang Nomor 062/KEP/Kab.Rbg/XXII/2021 Tertanggal 30 Oktober 2021 yang ditanda tangani oleh Drs. H. Jumanto, M.Pd selaku ketua panitia.

 Untuk kategori Guru Menulis sebagai Juara I adalah Agung Prabowo dengan judul “Purnama di Atas Bukit”  mewakili PGRI Ranting Kecamatan  Lasem, Juara II Retno Kusuma Dewi dengan judul “Guru Edan” mewakili PGRI Ranting Kecamatan Lasem, dan Juara III Slamet Winarto dengan judul “Prasangka” mewakili Ranting Kecamatan Pamotan.

Muhammad Yunus Anis, selaku Kepala MTs Negeri 2 Rembang mengatakan, prestasi menunjukkan anggota PGRI Ranting Pamotan khususnya MTs Negeri 2 Rembang memiliki guru-guru yang berpotensi untuk menghasilkan sebuah karya.

 Yunus Anis juga mengungkapkan, Slamet Winarto merupakan salah satu pengajar di MTsN 2 Rembang yang aktif sebagai motor penggerak dalam mengembangkan program literasi madrasah.  “Semoga prestasi-prestasi lain seperti ini bisa diikuti oleh siswa dan guru yang lain untuk membawa nama harum MTs Negeri 2 Rembang,” harap Yunus Anis.

Sementara Slamet Winarto menceritakan, ide penulisan cerpen yaitu tentang ketekunan dan kegigihan seorang siswa dengan semangatnya untuk dapat mengikuti pembelajaran daring. Namun karena ketidakmampuan ekonomi sehingga ia rela datang ke warung kopi yang saat ini marak dengan fasilitas wifi. Kedatangannya ke warkop hanya sekedar meminjam HP pada orang-orang yang ada di warung untuk mengirimkan tugas-tugas sekolah secara online.

 “Sebagai endingnya, semua orang termasuk guru dan orang tuanya merasa bersalah atas prasangka yang ditujukan pada si anak tersebut,” kata Slamet Winarto menutup ceritanya. (Wient).