Ciptakan Pendidikan Madrasah Yang Eksis di Dunia Global

Banjarnegara – “Dengan perkembangan jaman, menciptakan generasi muda yang berkualitas di jaman global tidak semudah membalikan telapak tangan. Harapan generasi muda untuk eksis di jaman serba teknologi dan internet ini, sehingga membuat diperlukannya trik dan teknis perkembangan cara mengajar siswa-siswi di madrasah,” demikian diungkapkan Kasubbag TU, H. Sumarna, pada sambutan dan pembinaan Rakor Kepala Madrasah, di Aula Kantor, Selasa (16/10).

Dibutuhkan kerja keras dan perubahan pola pikir juga teknis dari berbagai hal. Faktor utama berada di tangan Guru sebagai pendidik dan pencetak generasi penerus bangsa. Guru “jaman now” perlu kreatif dan transformatif. Apapun kurikulumnya, tapi cara mengajarnya biasa-biasa saja bahkan monoton tentunya tidak bisa di aplikasikan siswa-siswi yang sudah kristis dan mudah menyerap berbagai informasi melalui berbagai media.

Menurut Hasil penelitian, yang menentukan prestasi belajar anak adalah 49% karakter anak, peran Guru 30%, sisanya faktor lingkungan seperti sekolah, teman dan lainnya.

“Tidak bisa sekarang guru mengajar yang penting jalan, materi sudah disampaikan semua, memenuhi target pembelajaran dan lain-lain yang sifatnya akademis,” ucap Sumarna.

Kreatifitas di sini tentunya perlu di tumbuhkan dan dikembangkan, baik materi yang peka jaman juga faktor teknis mengajar. Adapaun pendekatan evaluasi belajar yang tetap berpegang pada aspek ranah koginitif, afektif dan psikomotirik sebagaimana terdapat pada penerapan Kurikuilum 2013.

Faktor utama lainnya yakni Kurikulum yg integratif. Di sini peran pemerintah dalam pelaksanaannya perlu berfikir kurikulum yang sesuai guna di terapkan pada sekolah/madrasah. Untuk kurikulum 2013 yang sudah ditetapkan, di harapkan bisa terpenuhi tujuan dan pencapaian pelaksanaan yang integrasi dengan sekolah, guru dan lingkungan.

Sumarna menambahkan, bahwa dalam pembelajaran pendidikan, jangan lupakan 4 pilar pendidikan, yakni Learning to know (belajar menngetahui), Learning to do (belajar melakukan sesuatu), Learning to be (belajar menjadi sesuatu), Learning to live together (belajar hidup bersama).

Tidak ketinggalan, seorang guru perlu memahami dan menerapan ketrampilan abad ke-21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation).

4C ini merupakan kemampuan sesungguhnya ingin dituju dengan Kurikulum 2013,” sambungnya..

Kasubbag TU berharap madrasah tetap menjaga kualitas pendidikan yang tetap berbasis agama, bisa eksis di dunia global baik madrasah, guru dan siswanya tentunya. Evalusi yang sudah berbasis digital tentunya harapan memudahkan para pendidik dalam membuat raport sebagai hasil pembelajaran. (Nangim/Sua)