Dalam Penilaian, Dewan Hakim FASI Harus Objektif, Profesional dan Transparan

Wonogiri – Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Festival Anak Sholeh Indonesi (FASI) tingkat Kabupaten Wonogiri tahun 2018 yang akan dilaksanakankan pada tanggal 14 Nopember 2018 di Pendopo Rumah Dinas Bupati dan sekitarnya, Seksi Lomba dan, Dewan Hakim FASI menggelar Rapat Koordinasi di Aula Kantor Kementerian Agama Kab. Wonogiri, Rabu, (31/10). Turut Hadir dalam kegiatan tersebut Kasubbag TU Kemenag Wonogiri, Kasi Pakis serta Dewan Hakim FASI Kab. Wonogiri Tahun 2018.

Kasubbag TU KanKemenag Wonogiri, Haryadi saat sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa ajang Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) adalah wujud nyata membentuk karakter anak sholeh, dimulai dari usia dini dengan penanaman pengetahuan Islami maupun umum, pendidikan akhlak, kedisiplinan, keberanian, dan juga sikap sportifitas.

Maka kepada semua dewan hakim, Beliau menekankan, hendaknya dalam penilaian harus objektif, profesional, transparan agar penyelenggaraan dan proses penjurian dilakukan dengan objektif

“Untuk semua para calon dewan hakim untuk menekankan sportif dan objektif dalam memberikan penilaian karena dengan penyelenggaraan FASI yang transparan dan proses penilaian yang objektif akan memunculkan semangat partisipasi dari masyarakat dan menjadi tolok ukur dalam menilai sebuah pembelajaran, “ harap Haryadi.

Kasubbag TU menekankan beberapa hal untuk dewan hakim FASI , pertama, Dewan Hakim harus amanah, jujur dan objektif dalam memberikan penilaian, karena menyangkut nasib peserta. Kedua, Dewan Hakim harus berintegritas, tidak boleh tergoda oleh rayuan materi, pesanan seseorang atau rayuan penguasa untuk memenangkan kelompok atau golongannya. Ketiga, Dewan Hakim harus benar-benar ahli di bidang keilmuannya dan harus memilki akhlak dan perilaku yang baik, sehingga dapat memberikan keteladanan dan contoh yang baik.

Festival Anak Sholeh menurut Haryadi,  tidak hanya sekedar mencari pemenang, tetapi lebih dari itu sebagai wahana membangkitkan potensi dan kreatifitas anak dengan memotivasi untuk mengembangkan diri dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Mencetak  generasi penerus yang kuat lahir batin, berkepribadian islami, serta mencintai agama Islam, Allah, Rasul dan seluruh ajarannya, harus dilakukan sedini mungkin. Dalam dunia pendidikan, anak dapat diibaratkan sebagai kertas putih yang belum ternoda, yang bisa ditulis dengan hal positif atau sebaliknya. Sehingga melalui ajang Festival Anak Sholeh Indonesia  (FASI)  diharapkan dapat mencetak generasi Islami yang berkarakter. (mursyid/heri/rf)