#Dari Sarasehan Moderasi Beragama (2), “Perkuat Moderasi Beragama untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa”

MODERASI Beragama dinilai sebagai solusi tepat untuk mengelola kemajemukan bangsa. Moderasi juga diharapkan mampu menghadirkan wajah asli agama yang pada dasarnya mengajarkan kebaikan.

Kepala  Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Musta’in Ahmad mengungkapkan, Indonesia adalah negara berpeduduk terbesar keempat di dunia. Terdiri atas banyak pulau, suku, etnis, agama dan budaya.

“Terlepas dari itu, masyarakat Indonesia dari dahulu adalah orang-orang yang beragama. Bhinneka Tunggal Ika juga diilhami dari falsafah ajaran Buddha. Dan sampai sekarang kita juga menjadi warga yang beragama,” kata Musta’in dalam acara Sarasehan Moderasi Beragama, Rabu (15/9/2021) di Ponpes Kauman, Lasem.

Untuk menguatkan kehidupan berbangsa di tengah kemajemukan ini, Musta’in berpendapat, moderasi beragama adalah cara yang tepat untuk memperkuat persatuan bangsa. Menurut Musta’in, masyarakat Indonesia mudah terpengaruh oleh adu domba pihak yang berkepentingan, sebagaimana yang sudah terjadi pada penjajahan Belanda dahulu.

“Kita ini gampang katut.  Dulu kita gampang diadu oleh Belanda. Imperialisme dan kolonialisme megadu domba kita denga teman sendiri. Lalu mereka hadir untuk mendamaikan namun dengan imbalan,” ungkap Mustai’in.

Dengan moderasi beragama, Musta’in berharap bisa menghadirkan wajah asli agama yang mengajarkan kebaikan. Bukannya bisa ditarik ke paham atheis atau sekuler atau pun radikalisme.

“Agama itu sudah moderat. Lalu bagaimana cara kita cara kita beragama secara moderat. Agama kita hadirkan dengan wajah yang asli yang mampu membangun relasi yang harmonis antar sesama ciptaan Tuhan. Ini yang sedang dijalankan oleh Kementerian Agama dengan penguatan moderasi beragama,” tutur Musta’in.

Pengasuh Ponpes Kauman Lasem, KH Zaim Ahmad Ma’shoem berpendapat, apa yang dilakukan oleh founding father adalah sangat tepat dalam membentuk negara ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

“Ketika Nabi Muhammad mau hijrah ke Madinah, beliau mengutus sahabat untuk hijrah terlebih dahulu dan menginvestigasi bagaimana kehidupan di sana. Lantas Nabi hijrah dan menyesuaikan dengan penduduk di Madinah. Walaupun kemudian penduduk Madinah 99 % beragama Islam, Nabi kemudian tidak membentuk Islam, tapi “daarussalam”, sebagai penghargaan terhadap penduduk Madinah yang beragama lain,” tutur pria yang akrab disapa Gus Zaim ini.

Lantas mengapa sekarang Madinah 100 % beragama Islam? Hal ini karena Islam mampu memberikan teladan melalui perilaku yang santun. “Bukan dengan menampakkan bendera Islamnya,” ungkap Gus Zaim.

Hal ini lah yang kemudian ditiru oleh kyai dan santri yang kala itu sadar, negara ini dibangun bersama-sama oleh semua agama. “Untuk menghargai agama lain itu, founding fathers meniru cara Rasulullah mendirikan Madinah. Ini adalah sejarah yang tidak boleh dilupakan,” kata Gus Zaim.

Ditambahkan Gus Zaim, dua hal yang bisa melindungi negara ini adalah perilaku horisontal dan vertikal. Perilaku horisontal dilakukan dengan memberikan kemanfaatan kepada sesama, baik eknomi, ucapan, pekerjaan dan sosial.

Sementara secara vertikal, menjalankan agama sesuai dengan ajaran masing-masing, tanpa menyalahkan agama orang lain. “Kita menganggap agama kita yang paling benar, tapi tidak boleh menyalahkan agama orang lain. Ini perilaku penganut agama yang saleh dan bertanggung jawab dengan imannya. Namun kita tidak boleh mengatakan semua agama adalah benar, karena ini kelihatannya toleran tapi salah,” pungkas Gus Zaim. – (Shofatus Shodiqoh)