Dengan Berlabuh Diri Di Masjid, Hati Penghuni Rutan Itu Tercerahkan

Surakarta – Semangat para penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 A Surakarta untuk memperbaiki diri dan berangan-angan bisa segera menghirup udara bebas begitu besar. Perasaan bersalah dan khilaf terhadap perbuatan  masa lalu yang melawan  hukum begitu mereka sesali. Puncaknya, saat adzan dikumandangkan, saf masjid An-Nur itu sudah dipenuhi wajah-wajah penuh keihlasan, Sabtu (19/1).

Salah satu warga binaan, Muh, 39 tahun, pria asal Banyuanyar, Surakarta itu mengaku semakin sering datang ke masjid  dan pengetahuan tentang agama semakin bertambah.

“Sebelumnya  diluar kulo (saya) dereng belum betul (dan) mengerti tentang agama. (Setelah) disini Saya sudah tahu agama walaupun sedikit-sedikit.  Tapi,  bisa untuk bekal nanti kalau di luar,” kata pria lajang yang sudah ditinggal wafat kedua orang tuanya.

Sementara itu penghuni rutan asal Bekasi, Ari,34 tahun, ini mengungkapkan dengan seringnya mengikuti pengajian di masjid An-Nur , ia mengaku lebih faham mengenai masalah agama islam. Padahal, sebelumnya sama sekali nggak mengerti. Tapi, sayang, Ari  belum bisa rutin mengikuti semua kegiatan di masjid itu, dikarenakan masih sering menjalani sidang.

Menurut salah seorang petugas Rutan, Suramto , 50 tahun. Pria yang tiap hari berhadapan dengan para penghuni Rutan itu menyebut binaannya dengan sebutan santriwan santriwati. Oleh karena itu, binaan  yang menguasai banyak materi ilmu agama direkrut menjadi guru dan ta’mir untuk mengajar warga binaan lainnya.

“Kadang-kadang santri atau warga binaan itu ya pada sregep-sregep nggak usah dioyak-oyak wis sudah gemruduk  ke masjid. Dan terkadang  juga masih harus didatangi dan dipanggil baru mereka pada ke masjid. Itulah hikmahnya kami mengajak mereka ya sok seneng, sok susah,” terang aparat yang berdomisili di Desa Jetis, Baki, Sukoharjo.

Sebagai acara pamungkas, Pardi, Penyuluh Agama Fungsional, memberikan tausiyah dengan tema  ahlak. Menurut Pardi, baik tidaknya ahlak bisa dilihat dari ucapannya. Karena ucapan itu menjadikan suatu barometer ukuran yang ada dihati kita.

“Sesuatu yang keluar dari mulut kita itu perintahnya dari hati. Kalau orang itu ucapannya bagus, menyenangkan dan tidak pernah menyakiti, mencaci dan memaki, tidak mengolok-olok dan sebagainya,orang itu tanda hatinya bagus,” terang penyuluh fungsional yang sudah 18 tahun ikut membina di rutan itu.

Dia menambahkan, bagi siapa saja yang senantiasa bisa menjaga ucapannya, maka Alloh  menjanjikan  reward yang luar biasa, sebagaimana terdapat pada surat Al ahzab ayat 71.(pardi_rma/wul)