Dialog Interaktif Semakin Diminati dalam Era Digital

Magelang – Penyuluh Agama Islam Azizah Herawati berpendapat bahwa program Dialog Interaktif sebagai media dakwah melalui siaran radio semakin diminati masyarakat. Menurut Azizah, budaya mendengar saat ini sudah mulai luntur sebagai dampak masifnya bermacam-macam informasi yang diterima masyarakat.

Melalui media sosial, Selasa (25/04/2017), Azizah menuturkan bahwa telah terjadi transformasi budaya dalam masyarakat terkait dengan budaya mendengar seiring kemajuan alat informasi yang semakin beragam.

“Beberapa waktu lalu, saat radio mendominasi sebagai alat hiburan dan informasi, mendengarkan siaran radio monolog menjadi daya tarik tersendiri. Ingat era K.H Zaenuddin MZ, pesan-pesan agama secara efektif dapat diterima masyarakat. Di era saat ini, metode siaran monolog bisa jadi kurang menarik karena masyarakat yang sibuk atau materi yang disampaikan tidak up to date ,” kata Azizah.

Sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional, Azizah secara rutin mengisi siaran rohani Mutiara Hikmah di Radio Gemilang FM, radio Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang sejak 2009 sampai saat ini.

“Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan agama lewat media radio merupakan salah satu tupoksi Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) Ahli Muda yang bisa dinilai Angka Kreditnya,” kata Azizah.

“Kemampuan seorang PAIF dalam membuka jalan untuk bisa siaran di radio merupakan prestasi tersendiri yang belum tentu bisa dilakukan oleh semua PAIF. Sampai saat ini, hanya ada dua orang penyuluh saja yang bisa secara rutin melakukan bimbingan dan penyuluhan melalui radio,” lanjutnya.

“Dengan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan di radio kita akan termotivasi untuk meningkatkan wawasan keilmuan dan memperbanyak bacaan sebagai bahan untuk melaksanakan penyuluhan karena materi yang harus selalu up to date, menyesuaikan waktu tayang dengan momen yang terjadi saat ini,” katanya.

Meski sudah akrab dengan penyiaran radio, Azizah berpendapat bahwa PAIF memang dituntut untuk selalu menghadirkan kajian yang menarik, kreatif, dan inovatif agar materi bimbingan dan penyuluhan secara aktual dapat diterima masyarakat.

“Dalam siaran monolog (satu arah), gaya, dan penyampaian narasumber harus selalu diperbaiki. Tidak mudah harus berbicara layaknya menghadapi jamaah dengan bahasa seperti bertutur, komunikatif dengan hanya di ruangan tertutup yang tidak ada orang lain,”  paparnya.

“Dengan siaran dialog interatif kita merasa menyatu dengan pendengar, karena kita membahas apa yang menjadi pertanyaan mereka. Masyarakat senang dengan sesuatu yang langsung dijawab, dan disitulah keunggulan dialog interaktif,” tegasnya.

“Meskipun tren masyarakat menyukai yang instant, dalam program bimbingan dan penyuluhan selalu kita sampaikan pentingnya menghidupkan kembali budaya membaca, mendengar, hadir ke majelis taklim, dan tidak cukup hanya dengan Googling saja,” lanjut Azizah.

Meskipun Dialog Interaktif memberikan warna baru dalam program bimbingan dan penyuluhan melalui radio, Azizah mengakui tidak mudah mewujudkan program tersebut karena sangat tergantung kepada operator radio.

“Khususnya pada radio pemerintah, tidak bisa leluasa membuat program acara seperti radio swasta. Meskipun monolog tetapi disajikan dengan materi yang kreatif dan teknik komunikasi yang bagus, masih terbuka segmen bagi para pendengar. Yang utama, adalah para PAIF  bisa termotivasi untuk menggunakan radio sebagai media untuk pembinaan,” pungkasnya. (Humas/Af)