Diklat Mandiri, Upaya Peningkatan Kompetensi

Purbalingga – Meningkatkan kompetensi guru di zaman sekarang wajib hukumnya. Apalagi dengan adanya Tunjangan Profesi Guru. Guru harus mengalokasikan TPG untuk memfasilitasi diri meningkatkan kompetensi. Sisihkan lima ratus ribu rupiah untuk diklat mandiri, workshop mandiri dan pelatihan-pelatihan mandiri. Swadayanya guru bersumber dari TPG. Kerja sama dengan Balai Diklat, tutor handal, hendaknya dapat diserap ilmunya dan aplikasikan di madrasah, demikian ungkap Kasi Pendidikan Madrasah,  Sudiono saat menyampaikan materi Peningkatan Kompetensi, di aula Madrasah Ibtidaiyah Istiqomah Sambas Purbalingga, Kamis (05/07).

Ditambahkan, guru agar melaksanakan pembelajaran tematik sesuai dengan Kurikulum 13. Jangan mengikuti kegiatan diklat hanya semata-mata sebagai formalitas untuk memperoleh sebuah sertifikat. Tetapi implementasikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh ke dalam pembelajaran di madrasah masing-masing.

“Ketika kita sudah berada di madrasah, kita harus mau melaksanakan kurikulum 2013 sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada. Konsekuen dan istiqomah dalam menghadapi problema di madrasah. Supaya madrasah tetap eksis dan jaya,” pesan Sudiono.

Ketua K3MI Kabupaten Purbalingga, Sugeng Riyadi saat dihubungi menginformasikan bahwa diklat yang dimotorinya ini dilaksanakan selama 5 hari terhitung mulai tanggal 02 – 06 Juli 2018. Diklat yang diikuti 132 peserta dengan biaya swadaya tersebut mengusung tema Diklat Teknis Substantif Pembelajaran Tematik Bagi Guru MI Kerjasama KKKMI Kabupaten  Purbalingga dengan Balai Diklat Keagamaan Semarang Tahun 2018.

“Diklat mandiri ini bertujuan untuk meningkatkan dan memutakhirkan  kompetensi guru dan menumbuhkan kembali rasa cinta, bangga serta handarbeni menyandang profesi guru yang digugu dan ditiru,” jelasnya.

Karakter Moral dan Karakter Kinerja

Balai Diklat Keagamaan Semarang menghadirkan 4 orang narasumber yaitu : Rr. Sri Sukarni K, M. Pd, Ratna Prilanti, S.Si, M.Pd., Dr. Hj. Siti Rokhanah, Nurul Kamilati, M.Pd, M. Ed.. Kepala Balai Diklat Keagamaan Semarang, Ibnu Hasyir berkesempatan memberikan motivasi kepada para peserta diklat, Kamis (05/07).

“Guru harus punya karakter moral: iman, taqwa, rendah hati dan jujur. Keempat moral tersebut harus melekat pada sosok guru karena menyampaikan sesuatu kepada murid  harus sama dengan apa yang dirasakan. Sedangkan karakter kinerja meliputi yang pertama kerja keras. Mencari bahan yang akan disampaikan kepada siswa, dapat melalui media sosial, perpustakaan maupun kejadian di sekitar. Kedua, kerja tuntas. Mentransfer ilmu ke peserta didik sehingga memahami dan mengamalkan. Ketiga, tidak mudah menyerah. Menghadapi berbagai karakter peserta didik dibutuhkan ketelatenan, kesabaran dan trik-trik jitu. Tentu saja berbeda  mengatasi antara anak yang berkemampuan tinggi dan sebaliknya,” pesannya. (sar/gt)