Diklat PMR Sarana Menumbuhkan Kepedulian

Surakarta – MTsN Surakarta 1 mengadakan diklat PMR di Villa Alamanda, Tawangmangu, Karanganyar Sabtu-Minggu (9-10/3). Diklat kali ini diikuti oleh 46 siswa dari kelas 8 (20 siswa) dan kelas 7 (26 siswa). Melalui diklat ini peserta diharapkan dapat mengetahui tujuh materi dasar kepalangmerahan. Salah satunya tentang kesukarelaan.

“Yaitu gerakan memberi bantuan secara sukarela, bukan mencari keuntungan,“ tutur Dewi Nurjanah, Pembina PMR MTsN Surakarta 1.

Kepala MTsN Surakarta1 Kirno Suwanto, dalam sambutannya berpesan kepada para peserta diklat agar sungguh-sungguh memahami semua materi yang disampaikan.

“Ikuti diklat ini dengan sungguh-sungguh. Pahami semua materi yang disampaikan, sehingga kalian dapat mempraktikkannya di madrasah pada khususnya dan lingkungan sekitar kalian pada umumnya,“ pesan Kirno.

Wakil Ketua PMR MTsN Surakarta 1 Ziya Abdillah menambahkan bahwa diklat ini juga untuk melatih kepemimpinan, menambah ilmu, dan mengajarkan tolong-menolong kapanpun dan di manapun.

Menurut Ziya, banyak manfaat yang diperolehnya saat mengikuti kegiatan PMR diantaranya dapat menumbuhkan sifat kemanusiaan, empati, dan tolong menolong pada sesama.

“Dengan diklat ini pengetahuan kami semakin bertambah,“ jelasnya.

Diklat tahun lalu diadakan di Griya PMI Mojosongo sehingga bisa praktek secara langsung merawat orang-orang jompo, orang terlantar, dan bahkan orang gila di Griya PMI. 

“Kalau tahun ini karena Diklat diadakan di villa ini ada suasana lain. Di sini disamping kita dapat materi dan praktik, juga dapat menikmati keindahan suasana Tawangmangu,“ jelas Zahra, kelas 8C, sang ketua PMR.

“Pertolongan pertama seperti terkilir, memar, dan sakit ringan menjadi materi pertama yang dilanjutkan dengan materi balut dan bidai. Balut ditujukan untuk luka pendarahan, sedangkan bidai adalah penatalaksanaan patah tulang. Setelah itu, materi evakuasi transportasi,” tutur Nabila Azzahra, peserta diklat.

Menurut Nabila semua materi seru dan menyenangkan karena setiap materi disertai dengan simulasi.

Dalam diklat PMR ini siswa kelas 8 atau anggota PMR lama menjadi panitia. Mereka bertugas memandu setiap sesi, mengondisikan peserta, dan membagi kelompok. “Di sini kami juga dilatih untuk mengoordinasi kegiatan atau acara,“ imbuh Ziya sang wakil ketua PMR di penghujung wawancara.

Seluruh narasumber dalam diklat ini dari PMI kota Surakarta.

“Semoga diklat PMR ini benar-benar mampu menambah ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan rasa peduli dan empati para peserta kepada sesama,” ujar salah satu panitia. (diana-rma/bd)