Dr. Ahmad Hidayatullah: Modul Yang Disusun Tidak Boleh Mematikan Kreativitas Guru

Semarang – Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI, Dr. Ahmad Hidayatullah menegaskan, modul pembelajaran Raudhatul Athfal (RA) yang kini tengah disusun harus dapat memberikan ruang inovasi dan kreasi pada kepala dan guru RA, tersedianya modul tak justru mematikannya.

Demikian dikemukakan Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi, Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI, Dr. Ahmad Hidayatullah, saat memberikan arahan sekaligus membuka Penyusunan Modul Implmentasi Regulasi Pembelajaran Raudhatul Athfal (RA) Angkatan 1, yang digelar di The Mirah Hotel, Bogor, Sabtu (12/6/21). Turut hadir dalam kesempatan itu, para Kasi Subdit Kurev, yaitu Dr. Suwardi dan Dr Imam Buchori.

Penyusunan modul dilaksanakan tiga hari, 12 s.d 14 Juni, diikuti oleh akademisi, pengawas madrasah, kepala dan guru RA perwakilan seluruh Indonesia serta tim dari Direktorat KSKK Madrasah. Pada hari pertama menghadirkan narasumber, Dr. Khaerudin, dosen Teknologi Pendidikan UNJ.

“Modul yang disusun tidak boleh mematikan kreativitas dan inovasi guru RA dalam pembelajarannya, misalnya hanya dengan menyediakan contoh-contoh. Harus membuka ruang inovasi dan kreasi pada pengelola RA dalam pembelajarannya,” tegasnya.

Anak-anak harus terlayanai dengan baik.

Menurut Kasubdit Ahmad Hidayatullah, tak semua guru RA mempuynyai kemampuan yang seragam. Berbagai kompleksitas dan keterbatasan guru RA, banyak di antaranya belum memenuhi standar nasional pendidikan. Kendati demikian, mereka punya semangat dan idealitas tinggi untuk ikut memajukan pendidikan RA.

“Agar para pengelola RA mudah menangkap dan mengimplementasikan aturan yang ada di regulasi, disusunlah modul pembelajaran,’ papar Kasubdit.

Ditambahkannya, revolusi pembelajaran harus ada perubahan drastis, fundementalis /mendasar mulai dari regulasi, paradigma, penjamin mutu pendidikan, pengawas, birokrat, kepala dan guru RA, sampai pada orangtua harus berubah pula. Perlu integritas tinggi yang tak goyah dengan kepentingan atau orientasi yang yang tidak ada kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan.

“Jangan buat modul yang menuntun guru dan seolah apa yang tertuang merupakan satu-satunya yang benar. Tetap beri ruang inovasi dan kreasi pada guru yang memunculkan inspirasi untuk berkembang,” tuturnya.

Lahirnya KMA 792 menunjukkan ciri ke-Islaman yang jelas dan pembentukan karakter secara individual dan kelompok. Selain itu moderasi beragama dan inklusi yang tak hanya disabilitas, namun juga ekonomi, suku dan ras. Muaranya adalah dapat menyiapkan anak yang siap membangun  bangsa Indonesia dan menjadi rahmatan lil alamin

Sementara itu, Abdul Mughni dalam laporannya mengatakan, saat ini tengah disiapkan 8 modul pembelajaran RA yaitu, (1) modul Perencanaan dan Penilaian; (2) modul Penyusunan Dokumen KTSP; (3) modul Pengembangan PAI; (4) modul Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK); (5) modul Pemberdayaan Orangtua; (6) modul Pendidikan Inklusi; (7) modul Strategi Pembelajaran dan Bahan Ajar; dan (8) modul Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) RA.

Terkait modul PPK jelas Abdul Mughni, PPK RA adalah karakter yang dicontohkan Rosululloh Muhammad SAW. Karena itu PPK RA yang dikembangkan dalam penyusunan modul harus merujuk pada ahlak Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan penanggung jawab modul PPK, Amhal Kaefahmi mengatakan, tim penyusun modul PPK berjumlah 5 orang yakni, 1. Amhal Kaefahmi (Kota Semarang) sebagai penanggung jawab, 2. Mahmudah (DKI), 3. Saikhudin Zuhri (Jawa Timur), 4. Himatul Aliyah (Banten), dan 5. Nur Chasanah (Jateng).  (Amhal Kaefahmi/bd)