Dua Kali Peresmian Gedung IAIN Salatiga Jatuh hari Jumat

Dua Kali Peresmian Gedung IAIN Salatiga Jatuh hari Jumat

Salatiga –  27/1, Menteri Agama Republik Indonedia Luqman Hakim Syaifuddin (LHS) meresmikan gedung perkuliahan dan rektorat IAIN Salatiga, yang terletak pada Jalur Lingkar Salatiga, Peresmian Gedung Perkuliahan dan Rektorat diresmikan bertepatan pada hari yang sama  Jumat namun   berbeda tanggal dan tahun, hadir dalam peresmian Rektor IAIN Salatiga Rahmad Hidayat, Rektor IAIN Ponorogo Maryam Yusuf, IAIN Pekalongan  Ade Dedi Rohayana, IAIN Purwokerto Luthfi Hamidi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Farhani, sekretaris Dirjen Bimas Kristen Pontus Sitorus, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga Wuryadi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purworejo Nuruddin, serta para Dosen dan para Tamu undangan .

Rektor Institut Agama Islam Negeri Rahmad Hidayat memohon izin pada LHS untuk menamai yang telah diresmikan yaitu, pertama  Gedung Kyai Haji Ahmad Dahlan  dan kedua Gedung Kyai Haji Hasyim Asy’ari untuk mengingat pada para pahlawan Nasional kita,  adapun Gedung KHA Dahlan telah  diresmikan pada hari Jum’at  26 Februari 2016, sedangkan peresmian gedung yang kedua pada hari jumat 27  Januari 2017, dengan nama Gedung Kyai Haji Hasyim Asy ‘Ari.

LHS dalam sambutannya mengatakan “Indonesia adalah Negara yang sangat besar serta dengan kemajemukan, berbicara tentang  Indonesia juga bicara tentang keaneka ragaman” selanjutnya dalam keanekaragaman dalam Islam merupakan sunatullah sebagai takdir atas qodzo dan qodarnya Allah SWT. Karena Allah menjadikan manusia di dunia ini merupakan kholifah di muka bumi untuk berbuat baik  “fastabiqul khoirot”. Di Indonesia ini telah terjalin hubungan yang baik antar umat beragama maupun Intern umat beragama sehingga kita dapat bersama-sama menjaga kedaulatan NKRI.

Beliau juga menhimbau kepada semuanya bagaimana memoderasi cara beragama, itu yang diperlukan oleh bangsa kita, karena para leluhur kita telah memberikan contoh kearifan di nusantara, sebab agama di Indonesia sangat moderat dan sangat kompetebel sesuai dengan realisasi kepribadian bangsa Indonesia.

Dalam menyikapi era digitalisasi,  Indonesia dipadang oleh Negara lain adalah Negara yang sangat seksi sehingga mereka berkepentingan mempengaruhi dengan media sosial, banyak yang ingin mempengaruhi generasi dengan media sosial yang kurang baik, namun dengan kita mendidik anak-anak kita mahasiswa kita dengan melalui beberapa sekolah dan perguruan tinggi yang telah didasari dengan akidah yang kuat, maka kita percayakan Negara kita NKRI ini akan terjaga dengan baik.(bd)