Dukungan Kualitas Kebijakan Sukseskan UAMBN

Wonosobo – Berkenaan dengan UAMBN untuk MTS yang akan dilaksanakan, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonosobo Muhtadin menyampaikan beberapa capaian yang harus tercapai dalam UAMBN nanti. Yaitu, UAMBN diharapkan mampu memberikan output positif bagi siswa, hadirnya UAMBN diharapkan mampu meningkatkan out come (penguasaan materi) yang lebih baik. Dan yang terakhir adalah benefit, atau peningkatan pengamalan nilai dari materi yang telah diajarkan.

Muhtadin sangat optimistis bahwa siswa yang lulus dari lembaga pendidikan dibawah naungan Kemenag memiliki kualitas sama dengan lulusan sekolah – sekolah Umum. Alasannya, selain adanya UU Sisdiknas tahun 2003 yang menjamin kesetaraan antara pendidikan madrasah dan sekolah umum, Kemenag juga memiliki alokasi anggaran yang cukup di sektor pendidikan.

“Negara memandang sama dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Sekarang, tergantung dari kualitas tenaga didiknya,” ucap Kakanmenag saat memberikan sambutan di acara sosialisasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) tingkat MTS, yang dilaksanakan di Rumah Makan Giri Amarta, Kecamatan Garung, Senin (27/3/2017).

Di hadapan 76 peserta, yang terdiri dari kepala dan guru MTS se Wonosobo, Muhtadin menyampaikan, Kementrian Agama mendapatkan alokasi dana pusat terbesar ketiga dari seluruh kementrian. Dari total anggaran tersebut sebanyak 87 persen terkonsentrasi ke sektor pendidikan. “Anggaran mau sebesar apapun nyaris tak ada artinya jika kita tidak mau meningkatkan kulitas diri. Terlebih bagi tenaga didik, yang bersentuhan langsung dengan siswa,” katanya memotivasi.

“Target intinya 3 itu. Kuantitas siswa meningkat, penguasaan materi lebih baik dan pengamalan materi meningkat,” tegasnya.

Kasubag TU Kemenag, Cahyo, membenarkan optimisme Kakankemenag tentang kualitas lulusan. Pengakuan dia, dilihat dari nilai hasil ujian siswa, sebenarnya lulusan madrasah tidak kalah dengan sekolah umum. “Buktinya nilai hasil ujian anak anak kami juga mampu bersaing ketat,” katanya.

Selain dari sisi kualitas, jumlah siswa madrasah tiap tahun terus mengalami peningkatan. Mengenai hal ini, ia menilai ada beberapa alasan, yang pertama masyarakat Wonosobo memiliki semangat religiusitas yang tinggi, Selanjutnya masyarakat menghendaki pola penyelenggaraan pendidikan, yang dekat dengan warga.

“Kita tahu kan? Mayoritas madrasah dibangun oleh warga, sehingga warga tidak sungkan ketika memberi saran dan masukan ke madrasah, dia juga merasa enak karena merasa memiliki disinilah mungkin perbedaannya,” pungkas Cahyo.