Dukungan semua pihak mutlak diperlukan dalam Ibadah Haji

Pemalang – Dalam rangka mematangkan persiapan penyelenggaraan ibadah haji, Kankemenag Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2015 di Aula (9/7). Acara diikuti oleh petugas kloter Kabupaten Pemalang, tutor manasik haji, dan Kepala KUA Kecamatan. Acara juga diikuti calon jamaah haji Kabupaten Pemalang tahun 2015 yang merupakan calon Karu dan Karom.

“Perjalanan ibadah haji tidak bisa berjalan maksimal tanpa dukungan semua pihak. Apakah dari Kemenag maupun tokoh agama, yang terpenting adalah andil dari calon jamaah haji sendiri. Oleh karena itu, sore ini kita kumpulkan petugas kloter, tutor, dan calon Karu Karom.” ujar Taufik, Kepala Kankemenag saat memberikan sambutan.

Menurutnya, petugas kloter tidak mungkin mengenal semua jamaahnya. Oleh karena itu, ditunjuk Karu dan Karom yang akan membantu petugas kloter. Petugas kloter dan calon Karu Karom harus saling mengenal dan sering bertemu, terlebih jika nanti pengundian kloter sudah dilakukan. Dengan demikian kegiatan ibadah haji bisa lancar, aman, dan nyaman. Seksi Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah (PHU) rencananya akan menyelenggarakan manasik haji sebanyak enam kali.

Manasik haji tingkat kabupaten akan di selenggarakan dua kali yaitu tanggal 27 Juli 2015 dan 6 Agustus 2015 berupa teori. Sedangkan untuk praktek manasik akan diselenggarakan empat kali mulai tanggal 29 – 30 Juli 2015 dan 1 – 2 Agustus 2015 di masing-masing KUA Kecamatan. Agar kegiatan manasik haji memberikan manfaat maksimal bagi calon jamaah, Seksi PHU telah memilih tutor manasik yang telah bersertifikat.

Taufik menghimbau kepada para tutor untuk memerhatikan tiga hal pokok dalam memberikan bimbingan. Seorang tutor tidak boleh bertindak provokatif. Tutor harus bisa menjelaskan sesuai madzhab yang ada apabila jamaah menanyakan masalah ubudiyah. “Tutor harus luwes, tidak boleh memaksakan madzhab yang ia ikuti. Tidak boleh mengharamkan perkara ibadah hanya karena beda madzhab.” jelasnya.

Kedua, tutor harus bisa memberikan penjelasan tentang kondisi ibadah haji maupun kondisi medan terkini di Arab Saudi. Untuk itu Taufik berharap agar tutor yang ditunjuk adalah tutor yang selalu mengikuti perkembangan pelaksanaan ibadah haji yang terbaru. Tutor juga harus bisa memberikan pengertian kepada calon jamaah tentang sejarah dan filosofi dari tiap-tiap rukun haji.

Dan ketiga, seorang tutor hendaknya tidak memberikan justifikasi atau pengumuman yang sumbernya belum jelas. Pengumuman yang tidak jelas akan membuat calon jamaah menjadi salah paham atau bimbang.

Sebagai penyelenggara manasik haji di tingkat kecamatan, Taufik meminta kepada Kepala KUA untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dia juga berharap Kepala KUA mengawasi kegiatan manasik haji dengan seksama dan dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan manasik haji di wilayahnya. (Fajar)