DWP Kemenag Banjarnegara Adakan Webinar Moderasi Beragama Sebagai Integrating Force Dalam Masyarakat

Banjarnegara – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan Webinar melalui Zoom meeting dan live Youtube  dengan tema “Moderasi Beragama Sebagai Integrating Force Dalam Masyarakat”, Senin,(11/10). Dengan menghadirkan dua narasumber yang expert di bidangnya yaitu Ibu Alissa Wahid dari LKK NU Pusat dengan materi Moderasi beragama di sekolah/madrasah  dan Kepala Kankemenag Kabupaten Banjarnegara Bapak H. Agus Suryo Suripto, dengan materi tentang Moderasi beragama dalam keluarga.

Kegiatan ini diikuti  Ketua DWP Kanwil Kemenag Jawa Tengah Ibu Hj. Linda Damayanti Musta’in Ahmad, sekaligus memberikan sambutan, Anggota DWP Kemenag Kab/kota se Jawa Tengah, anggota DWP Kemenag Banjarnagera, para guru di lingkungan RA, MI, MTs, dan MA yang keseluruhannya berjumlah sekitar 300 peserta.

Ibu Khuriyah, Selaku Ketua DWP Kemenag Banjarnegara dalam sambutannya menyampaikan bahwa moderasi beragama itu bukan hanya sekedar berbicara tentang perbedaan agama, tetapi yang lebih penting dari itu adalah moderasi dalam perbedaan pemahamaan ajaran agama Islam itu sendiri.

“Perbedaan pemahaman ajaran agama biasanya memunculkan banyak masalah di antara kaum muslim. Oleh karenanya pemahaman tentang adanya keberagaman dalam agama Islam penting untuk diketahui dan perlu kita pahamkan mulai sejak dini baik dalam keluarga maupun sekolah,” ucapnya

Sementara itu, Ibu Linda Musta’in Ahmad selaku Ketua DWP Kemenag Jawa Tengah, dalam kesempatan kali ini menyampaikan bahwa negara itu terbentuk dengan adanya kesepakatan bersama.

“Kita ketahui bersama bahwa negara terbangun oleh kesepakatan-kesepakatan dalam kehidupan bermasyarakat, dan kehidupan bermasyarakat ini dibangun oleh keluarga-keluarga jadi seperti  dipahami betapa pentingnya arti posisi keluarga dalam kehidupan,” ujarnya

Linda Musta’in Ahmad menambahkan bahwa acara webinar ini sangat relevan mengingat letak pentingnya moderasi beragama mulai di berbagai tingkat komunitas dasar yaitu lingkungan keluarga, manakala di lingkungan keluarga di dalamnya terdapat nilai-nilai baik yang dikembangkan maka saya yakin  akan berhasil dengan baik lebih kokoh untuk bekal hidup di tengah-tengah masyarakat kita dan itu artinya pembangunan bangsa kita akan terbantu dengan baik oleh nilai-nilai agama.

Dalam kesempatan ini, Ibu Alissa Wahid, selaku pemateri dalam Webinar ini menyampaikan tantangan saat ini adalah ketika di dalam masyarakat terjadi eksklusivisme dan ekstrimisme. Eksklusivisme dan ekstrimisme beragama itu semakin menguat, karena sekarang ini nilai-nilai ekstrimisme mulai bergeser ke arah kehidupan sehari-hari sehingga kemudian banyak sekali ketegangan antar kelompok masyarakat baik antar agama maupun dalam internal agama.

“Oleh karena itulah sekarang urusan-urusan eksklusivisme dan ekstrimisme beragama sudah sudah tidak lagi hanya urusan Densus 88 atau BNPB tetapi menjadi urusan bersama dalam hal ini Kementerian Agama,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa penanaman nilai moderasi beragama di sekolah dapat terwujud melalui  profil pelajar Pancasila. Dalam profil pelajar Pancasila terdapat nilai beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

“Dari nilai ini sebenarnya terdapat irisan dengan moderasi beragama jika seseorang bertakwa dan beriman itu artinya dia memahami adanya perbedaan, memahami pentingnya moderasi dalam beragama,” tandasnya.

Beliau menutup materinya dengan penjelasan mengenai pilar pengasuhan anak. Pilar pengasuhan dan pendidikan anak yaitu kasih sayang. “Pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah harus dan wajib berangkat dari kasih sayang,” pungkasnya

Materi kedua disampaikan oleh H. Agus Suryo Suripto. Beliau  menjelaskan bahwa moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem baik itu ekstrem kiri atau ekstrim kanan. Ekstrim kiri itu berarti radikal ekstrim kanan berarti liberal.

Beliau menambahkan bahwa seiring dengan berkembangnya zaman, teks-teks agama sejak zaman Nabi sampai dengan hari ini telah mengalami multitafsir.

“Oleh karena itu penting bagi orang tua memberikan pemahaman toleransi beragama kepada anak-anaknya. Perlunya sikap moderat yang komprehensif untuk menghadapi multitafsir ajaran agama. Hal ini penting agar kehidupan beragama dapat berjalan selaras ditengah-tengah perbedaan,” pungkasnya. (rv/hmsdwp/ak/rf)