Empat Dimensi Dalam Pentas PAI

Purbalingga – Sebanyak 210 pelajar SD, SMP, SMA dan SMK dari 18 kecamatan dengan penuh semangat mengikuti kegiatan Pentas Seni PAI Tingkat Kabupaten Purbalingga yang diselenggarakan oleh Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan perlombaan yang dilaksanakan Sabtu (29/07) di Komplek SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga ini merupakan program kerja Seksi Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Berbagai ketentuan perlombaan telah disosialisasikan dalam Technical Meeting di Aula Lantai II Kankemenag Kab. Purbalingga Jumat, 21 Juli 2017 lalu.

Ketua Panitia Lomba yang juga Kasi Pendidikan Agama Islam, Siswadi menjelaskan tentang jumlah peserta dan cabang-cabang yang dilombakan.

“Peserta lomba berjumlah 210 orang pelajar yaitu dari SD ada 126 orang, SMP ada 42 orang dan pelajar SMA /SMK sebanyak 42 orang. Cabang perlombaannya untuk SD ada 3 yaitu Pidato, Musabaqoh Hifdzil Quran dan Cerdas Cermat PAI. Untuk SMP ada 4 cabang, yaitu MTQ, MHQ, Pidato dan Kaligrafi. Sedangkan untuk SMA/SMK ada 3 cabang yaitu MTQ, Pidato dan Lomba Debat,” jelas Siswadi.

Siswadi juga menyampaikan terkait dengan pembiayaan kegitatan. “Biaya penyelenggaraan kegiatan ini berasal dari Anggaran Seksi Pendidikan Agama Islam tahun 2017,”

Ditemui usai membuka kegiatan lomba, Plt. Kepala Kankemenag Kab. Purbalingga Ahmad Muhdzir menyampaikan apresiasi atas kegiatan. “Pertama saya mengapresiasi kinerja Kasi PAI dan segenap Panitia yang telah bekerja keras hingga kegiatan ini dapat terlaksana.” ucapnya.

Lebih lanjut, Muhdzir menjelaskan tentang tujuan dari kegiatan lomba yang mencakup 4 dimensi.

“Saya tekankan sedikitnya ada empat dimensi yang dapat dicapai. Yaitu pertama dimensi spiritualitas untuk menumbuhkembangkan potensi fitrah anak-anak didik, bukan hanya kegiatan ceremonial atau formalitas belaka, tetapi merupakan ajang evaluasi, mawas diri, menghitung-hitung apa yang telah dilakukan guru terhadap anak didik. Yang kedua, dimensi kreatifitas, dalam hal ini guru harus bisa mengevaluasi sejauh mana kreatifitasnya dalam memoles anak didik untuk memahami dan menguasai ajaran-ajaran Islam,” urainya.

“Selanjutnya yang ketiga yaitu dimensi sportifitas, yaitu bagaimana kita menjunjung tinggi sportifitas sehingga hasil kejuaraan pada hari ini benar-benar bisa menjadi wakil kita pada kegiatan yang sama di tingkat provinsi. Dan terakhir yang keempat dimensi nasionalitas, merupakan hal yang sangat penting yaitu bagaimana anak didik kita bisa mencintai negaranya,“ pungkasnya. (sar-sf/gt)