Empat Indikator Dalam Moderasi Beragama

Kab. Pekalongan – H. Kasiman Mahmud Desky menyampaikan apresiasi atas kehadiran Profesor H. Nur Kholis Setiawan guna memberikan motivasi dan pencerahan pada ASN di Lingkungan Kankemenag Kabupaten Pekalongan guna memberikan motivasi serta pencerahan terhadap ASN di lingkungan Kankemenag Kabupaten Pekalongan terkait dengan “Strategi Pengembangan Zakat Profesi dan Penguatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan di Aula Kankemenag Kab. Pekalongan, (Kamis 20/5).

Dalam sambutannya H. Kasiman Mahmud Desky menjelaskan sekilas gambaran tentang loyalitas yang tinggi dari segenap ASN dalam menunaikan pembayaran zakat profesi, baik dari penghasilan gaji, Tukin ataupun TPG, sehingga setiap tahunnya dapat terkumpul uang zakat profesi yang disetorkan ke Baznas kurang lebih sebanyak 1,8 milyar rupiah.

Disampaikan pula oleh H. Kasiman Mahmud Desky akan keadaan di lingkungan Kankemenag Kab. Pekalongan, khususnya terkait dengan pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

Pada akhir sambutannya Kakankemenag menyampaikan, “Pencerahan dari Bapak Profesor nanti untuk lebih ditekankan pada muatan moderasi beragama, dengan harapan mudahan-mudahan dengan memahami moderasi beragama secara menyeluruh, teman-teman yang hadir ini dapat menjadi Agen Perubahan di satkernya masing-masing, yang kemudian disosialisasikan kepada teman-temannya yang lain. ” pesan H. Kasiman Mahmud Desky dalam akhir sambutannya.

Dalam pemaparan materi motivasi dan pencerahannya, Bapak Profesor H. Nur Kholis menyampaikan bagaimana cara memaknai moderasi beragama, apa yang bisa kita jadikan indikator bahwa orang beragama itu moderat atau belum moderat, kira-kira ciri-cirinya apa saja ?

Disampaikan oleh Profesor H. Nur Kholis “Saya yakin bapak ibu di Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan sudah menjalankan keberagamaan secara baik, kami berharap nantinya bapak-ibu dapat memberikan penjelasan pada masyarakat, dan stakeholder dari kementerian agama ini kemudian memiliki bahasa yang sama terkait dengan bagaimana cara memaknai moderasi beragama,” ujar Profesor H.Nur Kholis.

“Moderasi beragama atau moderat dalam beragama itu tidak ekstrim kanan maupun kiri, jadi berada di tengah-tengah. Artinya kalau kita sebagai seorang pemeluk agama, maka kita harus punya keyakinan secara absolut atau kita harus yakin bahwa satu-satunya kebenaran bagi kita itu adalah agama yang saat ini kita peluk, akan tetapi pada saat bersamaan, kita pun harus mampu memberikan ruang kepada siapapun orang yang berbeda agama dan keyakinan. Jadi inti perbedaannya disitu, itu pengertian dari yang paling sederhana, ’ jelas Profesor H. Nur Kholis.

Masih dalam penjelasannya,  disampaikan oleh Profesor bahwa ada 4 Indikator moderasi beragama,  yaitu 1) Pertama adanya keterbukaan : Keterbukaan di sini artinya masih mau menerima kritik ataupun masukan masukan dari orang lain. Jadi kalau ada orang yang tidak mau dikritik, merasa dirinya paling benar, berarti orang tersebut belum moderat dalam beragama. Ketika ada perbedaan-perbedaan pendapat, orang moderat itu mau untuk mendiskusikannya. Ciri yang berikutnya adalah 2) Mengutamakan berpikir kritis : Dalam peradaban kehidupan beragama itu kita harus dapat mengembangkan pemikiran kritis disebabkan pemahaman terhadap sumber-sumber keagamaan, misalnya untuk umat Islam yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadist membutuhkan kreativitas untuk berpikir. Kita harus tahu bagaimana cara kita mendefinisikan mana sunnah muakkad dan mana yang sunnah Ghoiru muakkad. Jadi bukan secara tekstualitas kita memahaminya. Dibutuhkan pendekatan-pendekatan ilmu, baik ilmu antropologi, sosiologi juga sejarah.

Adapun ciri moderat yang ketiga adalah 3). Sadar akan keterbatasan diri ini bisa disebut juga sekaligus dengan tawadhu. Dengan modal ilmu saja tidak cukup dan jelas akan dapat menjadikan liberal/bebas, sehingga akal itu harus dijaga dengan kesadaran akan keterbatasan diri, dengan demikian ini akan menjadikan dirinya tidak semena-mena atau tidak merasa paling benar.

“Kebebasan berpikir ini ternyata memiliki batas pemikiran. Sehebat apapun kita, pastinya memiliki keterbatasan, sehingga tidak boleh seseorang ulama atau seorang ahli mendewa-dewakan pemikirannya lalu menyalahkan pemikiran ulama ataupun orang lain. Diri orang moderat itu tidak mudah menyalahkan orang lain malah sebaliknya justru lebih sering menyalahkan dirinya sendiri, “ paparnya.

Kemudian ciri berikutnya adalah 4). Berorientasi pada kemanusiaan atau keutamaan umat artinya  memberikan kemudahan pada orang lain, jadi senantiasa berfikir bersikap toleransi, bisa menghargai kebenaran yang berbeda, dan mau mendiskusikannya bersama.

“Jadi dari keempat ciri moderasi beragama yang telak saya sampaikan tersebut itu nantinya hendaknya akan semakin menjadi penguat bagi kita semua sesama pemeluk agama, nanti nya ciri- ciri tersebut bisa kita sesuaikan dengan kondisi kita masing-masing, kita sesuaikan dengan keseharian kita. Harapan saya setelah ini kita paham akan makna moderasi beserta indikator-indikatornya dan siap untuk dapat menjalankan agama dengan baik atau beragama secara moderat.” pungkasnya. (Ant/bd)